Bumi Makin Panas, Laju Pemanasan Global Lebih Cepat dalam 10 Tahun Terakhir

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Laju pemanasan global tercatat makin cepat dalam 10 tahun terakhir menurut studi terbaru. Sejak 2015, kenaikan suhu rata-rata bumi terpantau mencapai level tertinggi dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya.

Mengutip Bloomberg, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Geophysical Research Letters menyebutkan suhu Bumi meningkat sekitar 0,35 derajat Celsius dalam periode 2015–2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan yang berada di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade pada periode 1970–2015.

Para peneliti menyatakan temuan tersebut merupakan bukti statistik pertama yang menunjukkan percepatan pemanasan global secara signifikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, suhu global juga mencetak rekor tertinggi. Tiga tahun terakhir menjadi periode terpanas sejak masa sebelum revolusi industri.

Pada 2024, kenaikan suhu global bahkan sempat melampaui 1,5 derajat Celsius dibandingkan dengan periode pra-industri. Suhu tersebut merupakan ambang batas bawah yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris untuk membatasi dampak perubahan iklim.

Meski target tersebut dihitung berdasarkan rata-rata kenaikan suhu selama 20 tahun, terlampauinya batas tersebut dalam satu tahun menunjukkan bahwa upaya global menahan laju perubahan iklim masih belum memadai.

Baca Juga

  • Longsor di TPST Batargebang, Puncak Gunung Es Pengelolaan Sampah Jakarta
  • Riset Ungkap Risiko Kenaikan Biaya Pinjaman, Imbas dari Degradasi Lingkungan
  • Pertamina Geothermal (PGEO) Raup Laba Bersih Rp2,34 Triliun pada 2025

Sejumlah ilmuwan sebelumnya berdebat mengenai apakah laju pemanasan global benar-benar makin cepat. Konsensus ilmiah menyebut emisi gas rumah kaca telah menyebabkan suhu Bumi meningkat sejak era pra-industri, tetapi laju kenaikan tersebut relatif stabil selama beberapa dekade.

Namun, rekor suhu global dalam beberapa tahun terakhir mendorong peneliti untuk menilai kembali kemungkinan percepatan tren pemanasan tersebut.

Penulis studi sekaligus peneliti di Potsdam Institute for Climate Impact Research, Stefan Rahmstorf, mengatakan para peneliti menggunakan metode statistik untuk memisahkan pengaruh faktor alam dari tren pemanasan jangka panjang.

Faktor alam yang dianalisis antara lain fenomena cuaca El Niño, aktivitas vulkanik, serta variasi radiasi matahari.

Setelah faktor-faktor tersebut disaring, para peneliti menyimpulkan percepatan pemanasan global sejak 2015 bukan semata akibat suhu ekstrem pada 2023 dan 2024, tetapi mencerminkan perubahan tren jangka panjang. Penelitian ini menambah bukti bahwa perubahan iklim berdampak lebih cepat dan lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya.

“Jika laju pemanasan dalam satu dekade terakhir berlanjut, suhu global berpotensi melampaui batas 1,5 derajat Celsius secara permanen sebelum 2030,” kata Rahmstorf.

Menurutnya, laju pemanasan bumi pada akhirnya akan sangat bergantung pada seberapa cepat dunia mampu menurunkan emisi karbon dioksida dari penggunaan bahan bakar fosil hingga mencapai nol.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MPSI Sebut Serangan KKB kepada Warga Sipil Pelanggaran Kemanusiaan Serius
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Chat Terakhir Vidi Aldiano dan Andien, Sang Sahabat Ngaku Sudah Berfirasat: Khawatir Banget Sama Elo!
• 9 jam lalugrid.id
thumb
BRI Insurance Salurkan Bantuan ke Korban Longsor Bandung Barat, Fokus Air Bersih-Pendidikan
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Harga Minyak Tembus $100, Menkeu Purbaya: MBG Tidak Dipangkas, tapi Beli Motor Pakai Anggaran Gizi Akan Dihentikan
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pandji Pragiwaksono Mengaku Ditanya Penyidik soal Siapa yang Terlibat Dalam Sidang Adat di Toraja
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.