Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuding pernyataan sejumlah ekonom memicu sentimen negatif sehingga nilai tukar rupiah bergejolak menembus batas psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Purbaya juga membantah spekulasi sejumlah pihak yang menyamakan kondisi tekanan pasar keuangan saat ini dengan krisis moneter 1998. Dia meyakini fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih solid.
"Rupiah 17.000, IHSG anjlok, karena sebagian teman-teman ekonom bilang, katanya kita sudah resesi, seperti 1998 lagi dan itulah, daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian dan boro-boro krisis," ucap Purbaya di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Bendahara negara itu merujuk pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 yang mencapai 5,39% atau tertinggi dalam beberapa tahun belakangan. Dia pun merasa kekhawatiran bahwa Indonesia sedang menuju jurang perlambatan ekonomi kurang tepat.
"Jangankan krisis. Resesi aja belum. Melambatnya aja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan," tambahnya.
Oleh karena itu, Purbaya secara khusus meminta para investor di pasar keuangan untuk tetap tenang dan rasional dalam merespons dinamika pasar global yang berimbas ke dalam negeri. Dia mengaku akan terus menjaga fondasi perekonomian tetap solid.
Baca Juga
- Purbaya Klaim Kas Cukup, Pastikan Harga BBM Tak Naik!
- Purbaya Lakukan Evaluasi Komprehensif Redam Gejolak Harga Minyak ke APBN
- Harga Minyak Meroket, Purbaya: Pemerintah Kawal Dampaknya ke APBN
Sebagai catatan, berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 76 poin atau 0,45% ke posisi Rp17.001 per dolar AS pada Senin (9/3/2026) pagi. Meski kemudian membaik, yang mana rupiah ditutup di level Rp16.949 per dolar AS pada akhir perdagangan.
Pelemahan ini menjadi sejarah kelam baru. Level tersebut melampaui rekor terburuk saat puncak kepanikan pandemi Covid-19 pada Maret 2020 yang berada di kisaran Rp16.600–Rp16.700 per dolar AS, serta mengalahkan rekor intraday krisis moneter Juni 1998 yang sempat menyentuh Rp16.800 per dolar AS.
Meski angka-angka tersebut memicu trauma sejarah, Purbaya meyakinkan bahwa pemerintah saat ini memiliki instrumen dan pengalaman yang jauh lebih mumpuni dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Otoritas fiskal, katanya, telah memetakan akar masalah dari krisis 1998 agar kesalahan serupa tidak terulang.
"Kita sudah tahu krisis 1998 apa penyebabnya. Kita terapkan [mitigasinya] di 2008-2009. Ketika global jatuh, kita tumbuh bagus kan. 2020, kita jaga juga ekonominya dengan kebijakan yang pas," jelasnya.





