Amerika Serikat (AS) kecewa dengan skala serangan udara yang dilancarkan Israel terhadap puluhan depot minyak di wilayah Iran selama akhir pekan, yang memicu kebakaran hebat. Presiden AS Donald Trump disebut tidak senang dengan serangan Iran terhadap depot bahan bakar Iran tersebut.
Laporan media AS, Axios, yang mengutip sejumlah sumber yang memahami persoalan itu, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (9/3/2026), menandai perselisihan penting pertama antara AS dan Israel sejak kedua negara melancarkan serangan terkoordinasi dalam skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan yang dilancarkan Angkatan Udara Israel pada Sabtu (7/3) memicu kebakaran dahsyat di Teheran, dengan kobaran api raksasa terlihat dari jarak beberapa kilometer. Area ibu kota Iran diselimuti asap tebal yang mengepul di atas tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri setempat.
Laporan menyebut serangan Israel itu menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran.
Angkatan Bersenjata Israel (IDF) mengatakan bahwa depot bahan bakar yang menjadi target serangan itu "digunakan oleh rezim Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai konsumen, termasuk organ-organ militernya".
Pejabat Israel mengklaim bahwa serangan itu dimaksudkan untuk memperingatkan Iran agar berhenti menargetkan infrastruktur sipil Israel. IDF, menurut para pejabat Israel dan AS, juga telah memberitahu militer AS sebelum serangan itu dilancarkan.
Namun, Washington terkejut dengan betapa luasnya skala serangan Israel tersebut. Trump dilaporkan tidak merasa senang dengan serangan sekutunya tersebut.
"Presiden (Trump) tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Dia ingin menyelamatkan minyak, bukan membakarnya. Dan itu mengingatkan orang-orang akan kenaikan harga bensin," kata seorang penasihat Trump, yang tidak disebut namanya, saat berbicara kepada Axios.
(nvc/ita)





