Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera mencatat sebanyak 1.872 keluarga masih berada di pengungsian di wilayah terdampak bencana.
Juru Bicara Satgas Pascabencana Sumatera, Amran, mengatakan pemerintah menargetkan seluruh pengungsi sudah tidak lagi tinggal di tenda sebelum Idul Fitri.
"Kami targetkan untuk sebelum pelaksanaan Idul Fitri ini itu semua sudah bersih," ucap Amran di Kantor Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Jakarta, Senin (9/3).
Pengungsi Berkurang SignifikanAmran menjelaskan, jumlah pengungsi saat ini jauh berkurang dibandingkan saat awal bencana terjadi.
Ia menyebutkan pada awal kejadian bencana terdapat 2.178.269 keluarga terdampak.
Namun dalam dua hari terakhir jumlah pengungsi telah berkurang sebanyak 428 keluarga.
"Dari total jumlah pengungsi di awal ya, ini di awal kejadian bencana sebanyak 2.178.269. Saat sekarang ini kami menghitung dari dua hari yang lalu total pengungsi berkurang ya hingga hari ini sebanyak 428 KK," sebut Amran.
Saat ini pengungsi tersebar di dua provinsi, yaitu:
Aceh: 1.695 keluarga
Sumatera Utara: 177 keluarga
Sementara di Sumatera Barat sudah tidak ada lagi pengungsi.
Amran berharap jumlah pengungsi terus menurun hingga Idul Fitri karena mereka mulai berpindah ke hunian sementara (huntara).
"Kita berharap bahwa tren ini akan terus berkurang hingga pelaksanaan Idul Fitri yang akan datang. Sehingga kita optimis bahwa semua pengungsi ini akan terus berkurang menempati Huntara sehingga kita tidak melihat lagi nanti ada pengungsi di tenda," ujarnya.
Dua Skema Penanganan PengungsiPemerintah memiliki waktu sekitar dua minggu untuk mencapai target tidak ada lagi tenda pengungsian.
Wakil Koordinator Komunikasi dan Publikasi Satgas Pascabencana Sumatera, Benni Irwan, mengatakan ada dua skema utama untuk mempercepat pemindahan pengungsi.
Skema pertama adalah percepatan pembangunan hunian sementara melalui kolaborasi lintas lembaga.
"Yang pertama BNPB, yang kedua melalui Kementerian PU, yang ketiga melalui BPI Danantara, yang keempat melalui Pemerintah Daerah, yang kelima melalui Ormas atau lembaga-lembaga non-government. Itu sekarang ini berupaya sekuat tenaga, berupaya semaksimal mungkin, melakukan percepatan-percepatan pembangunan Huntara," tutur Benni.
Skema kedua adalah memberikan pilihan kepada masyarakat untuk tidak hanya menempati huntara, tetapi juga menyewa rumah atau tinggal bersama kerabat.
"Yang kedua, sebenarnya ada kebebasan untuk memilih bagi masyarakat-masyarakat kita terdampak. Yang saya maksud kebebasan memilih ini, boleh ke Huntara, atau dia sewa rumah, atau dia tinggal di rumah saudara," ucap Benni.
Bagi pengungsi yang memilih menyewa rumah akan mendapatkan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH).
"Nah, untuk masyarakat kita yang memilih jalan yang kedua, mereka diberi DTH," sambungnya.
DTH Sudah Disalurkan 12.771 RekeningBenni menjelaskan bantuan DTH telah disalurkan 100 persen kepada 12.771 rekening korban di tiga provinsi terdampak.
Rinciannya:
Aceh: 6.846 rekening
Sumatera Utara: 4.162 rekening
Sumatera Barat: 1.763 rekening
Namun data tersebut masih berpotensi bertambah karena proses pendataan terus berjalan.
"Jadi proses pendataan itu berjalan terus. Kita tidak mau menunggu, 'Oh semua harus fix,' tidak. Kalau menunggu tidak akan jalan-jalan. Jadi begitu ada data terbaru, ya kita salurkan pembiayaannya, DTH-nya, sesuai data yang terbaru. Meskipun nanti nambah lagi, kita salurkan lagi," kata Benni.
Tantangan Validasi Data dan HuntaraBenni mengakui masih ada sejumlah tantangan dalam proses penanganan pengungsi, terutama terkait validasi data.
"Ya, validasi data, meskipun kita meminta pemerintah daerah turun langsung, meminta Pemda, Pak Bupati bikin tim khusus, Satgas kecil di daerah untuk menyiapkan data ini. Mana masyarakat yang akan masuk ke Huntara dan mana masyarakat yang akan pindah dan lain-lain segala macamnya," ungkap Benni.
Selain itu, sebagian masyarakat masih ragu pindah ke hunian sementara karena lokasinya jauh dari tempat tinggal sebelumnya.
"Yang kedua, meskipun sudah kita siapkan Huntara, itu masyarakat kita ini berpikir ulang. Karena apa? Mungkin Huntara yang disiapkan agak jauh dari tempat asal mereka sebelumnya. Itu mereka mikir juga. Karena apa? Pindah Huntara ini ya hanya pindah hunian sementara. Karena masyarakat juga berpikir, 'Wah kalau saya ke Huntara, bagaimana nanti anak saya sekolah? Bagaimana nanti saya bekerja?' Akan jauh dari lokasi," kata Benni.





