KUPANG, KOMPAS - Kendati pasokan sudah didatangkan, harga gas elpiji di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur masih tinggi. Pasokannya juga terbatas. Diduga diselewengkan, aparat keamanan dan Pertamina diminta mengawasi peredarannya lebih ketat.
"Pasti ada mafia yang bermain. Bayangankan, barangnya baru tiba dan langsung ludes. Aparat kita dimana? Harusnya ini sudah menjadi atensi mereka," kata Lucky (40), warga yang ditemui saat mencari tempat penjualan gas isi ulang pada Senin (9/3/2026) petang.
Lucky menduga pihak yang terlibat dalam rantai distribusi menjadi bagian dari mafia itu. Tujuannya mencari keuntungan di tengah kelangkaan gas di Kota Kupang dan sekitarnya. Terlebih saat ini warga, khususnya umat Islam, sedang menyiapkan perayaan Idul Fitri.
Lucky mengaku sudah lebih dari sebulan tidak mendapatkan gas elpiji. Ia kembali menggunakan kompor minyak tanah untuk kebutuhan masak di rumah. Dia pesimis akan mendapatkan gas dengan harga terjangkau dalam waktu dekat.
Pantauan Kompas di salah satu distributor di Kawasan Oepura, gudang penyimpanan gas kosong. Sebuah truk peti kemas diparkir di tempat itu. Seorang petugas mengatakan, gas yang tiba pada Senin siang langsung ludes.
Saat ditanya kapan akan datang lagi, ia mengaku tidak tahu. "Ini kan tergantung pada kapal," ujarnya. Pasokan gas itu didatangkan menggunakan kapal dari Surabaya, Jawa Timur.
Harga isi ulang untuk tabungan 12 kilogram di tempat itu sebesar Rp 300.000. Harga ini lebih tinggi dari biasanya, yakni Rp 250.000 per tabung. Padahal tempat tersebut merupakan salah satu agen resmi yang terdaftar di Pertamina.
Di beberapa pengecer yang didatangi Kompas, mereka menuturkan, membeli gas di agen dengan harga Rp 300.000 untuk isi ulang tabung ukuran 12 kg. Mereka lalu menjualnya dengan harga Rp 390.000 per tabung.
Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, polisi tengah mengumpulkan keterangan mengenai kelangkaan gas dan harga yang meroket. Masyarakat diminta melaporkan jika menemukan penyelewengan.
Ia menuturkan, lebih kurang 1.500 tabung gas elpiji telah tiba di Pelabuhan Tenau Kupang pada Minggu kemarin. Selanjutnya didistribusikan ke agen dan pengecer.
“Kami melakukan koordinasi intensif dengan pihak distributor serta otoritas pelabuhan untuk memastikan proses bongkar muat berjalan lancar sehingga distribusi ke masyarakat dapat segera normal,” kata Henry.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik. Masyarakat diajak tetap tenang menghadapi situasi ini. Menjaga ketertiban distribusi merupakan tanggung jawab bersama agar situasi tetap kondusif.
Terkait gas yang ludes dalam waktu singkat serta harga yang melebihi ambang batas, Pertamina belum memberi keterangan resmi. Namun, sehari sebelumnya, Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations, dan CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga mengatakan, sejak akhir Februari, penyaluran memang terkendala.
Penyebabnya kedatangan kapal dan antrian sandar dan muat kontainer di Pelabuhan Surabaya sebagai supply point. Ia menyampaikan, proses percepatan telah dilaksanakan. Sabtu (7/3), dua peti kemas dari Surabaya telah tiba di Kota Kupang dan menunggu antrian pembongkaran di Pelabuhan Tenau pada Minggu ini.
Dua peti kemas itu membawa muatan 1.381 tabung. Terdiri atas, 868 tabung ukuran 12 kg, 60 tabung ukuran 50 kg, dan 453 tabung ukuran 5,5 kg. Tabung itu akan langsung didistribusikan segera setelah kargo dibongkar.
"Suplai selanjutnya, masyarakat Kota Kupang juga akan menerima tambahan 1.125 tabung elpiji yang akan dibagi dalam dua kontainer, yang diestimasikan akan tiba di Kupang pada Senin (9/3)," kata Ahad.
Menurutnya, kebutuhan harian gas di Kota Kupang, untuk ukuran 5.5 kg sebanyak 46 tabung, 12 kg sebanyak 199 tabung, dan 50 kg sebanyak 12 tabung.





