Kemenkes Gandeng Kemendikdasmen Skrining Masalah Kejiwaan Siswa di Sekolah

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk melakukan skrining atau deteksi dini masalah kesehatan mental pada siswa di sekolah.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan upaya tersebut dilakukan dengan membekali guru kemampuan untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental pada anak.

“Kita juga bekerja sama sama Mendikdasmen agar para guru-guru ini dibekali ilmu bisa melakukan screening lah atau surveillance kalau yang diduga punya masalah kesehatan jiwa agar bisa ditangani juga di Puskesmas,” kata Budi di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (9/3/2026)

Menurutnya, guru dan orang tua memiliki peran penting dalam mendeteksi masalah kesehatan mental pada anak karena keduanya paling sering berinteraksi dengan mereka.

“Harusnya kalau anak-anak yang menyendiri ini yang bisa lihat paling cepat harusnya ibu dan guru. Karena mereka kan spend waktunya banyak di rumah dan banyak di sekolah ya,” ujarnya.

Budi menjelaskan, tekanan yang dialami anak bisa berasal dari berbagai faktor, seperti pola asuh keluarga, perundungan, maupun tekanan akademik. Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa kesepian jika tidak memiliki ruang untuk menyalurkan masalahnya.

“Bahwa kemudian karena mereka tidak memiliki penyaluran kemudian jadi dia terisolasi sendiri kesepian, itu adalah besar kemungkinannya terjadi karena dia nggak bisa ngomong kan dengan orang lain mengenai tekanan di keluarganya dia,” kata dia.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menambahkan, deteksi dini di sekolah akan diperkuat dengan peningkatan kapasitas guru bimbingan konseling (BK). Bahkan pada jenjang sekolah dasar yang belum memiliki guru BK, seluruh guru akan dibekali kemampuan dasar konseling.

“Nah jadi sekarang di Kemendikdasmen di sekolah-sekolah yang datang ke BK kalau dulu kan anak bermasalah, tapi sekarang yang datang ke BK itu dibuat image-nya lebih positif,” ujar Endang.

Ia menambahkan, jika siswa sudah terdeteksi mengalami masalah kesehatan mental, maka penanganan lanjutan dapat dilakukan melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas.

“Nah di Puskesmas itu nanti yang lebih lanjut masalahnya. Yang psikolog klinis ini karena butuh konseling kan sekitar 30 menit apalagi kalau udah mulai menyakiti diri ada yang sudah mulai barcode-ing itu banyak anak-anak,” kata Endang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diperiksa Bareskrim Terkait Sidang Adat Toraja, Pandji Pragiwaksono Ngarep Restorative Justice
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemerintah Salurkan Bantuan Pangan kepada Masyarakat Tanjungpinang
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Bukan Hanya sebagai Penyanyi, Habib Jafar Terkagum-kagum pada Julukan yang Disematkan untuk Vidi Aldiano
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
TelkomMetra Lakukan Penataan Portofolio Bisnis, AdMedika Group Siap Masuki Fase Pertumbuhan Baru ke Kancah Regional di Bawah Fullerton Health
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Senin 9 Maret, Cek Titik Terdekat
• 16 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.