JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, sejumlah trotoar di Jakarta kembali dipenuhi oleh warga jalanan.
Mereka terdiri dari pengemis, pemulung, hingga kelompok yang kerap disebut “manusia gerobak” meski tidak semuanya benar-benar membawa gerobak.
Fenomena ini terlihat di beberapa ruas jalan di Jakarta Selatan. Trotoar yang sejatinya diperuntukkan bagi pejalan kaki perlahan berubah fungsi menjadi tempat beristirahat, mencari nafkah, bahkan tempat tinggal sementara bagi warga yang terpinggirkan secara ekonomi.
Baca juga: Pengendara Motor Tewas Terlindas Trailer usai Tabrakan di Jalan RE Martadinata
Pantauan Kompas.com pada Jumat (6/3/2026) di trotoar yang menghubungkan Jalan Pasar Minggu menuju Jalan Prof. Dr. Soepomo memperlihatkan gambaran itu secara jelas.
Seorang perempuan paruh baya tampak duduk bersila di atas ubin pemandu (tactile paving) berwarna kuning.
Rambutnya diikat sederhana menggunakan jepitan berwarna oranye. Ia mengenakan kaus merah muda yang warnanya telah memudar dan celana jin yang tampak lusuh.
Tatapannya sesekali mengarah ke arus kendaraan yang melintas deras di depannya. Wajahnya tampak lelah, seolah sedang mengambil jeda dari rutinitas panjang menyusuri jalanan Ibu Kota.
Di sampingnya, sebuah gerobak kayu berwarna hijau terparkir di tepi trotoar. Gerobak itu dipenuhi tumpukan kardus yang diikat rapi, karung putih besar berisi botol plastik, serta beberapa tas yang menggantung di sisinya.
Gerobak tersebut bukan sekadar alat angkut, melainkan sumber penghidupan. Tak jauh dari lokasi itu, pemandangan serupa terlihat di beberapa titik lain.
Seorang pria berbaju hijau tampak tertidur di bawah pohon dengan alas seadanya. Di dekatnya, beberapa ekor kucing berbaring santai.
Trotoar tersebut sebenarnya dilengkapi jalur pemandu bagi penyandang disabilitas. Namun, ruang publik itu kini juga menjadi tempat beristirahat bagi warga yang tidak memiliki tempat tinggal.
Kontras terlihat jelas. Di satu sisi, kendaraan melintas cepat menuju area perkantoran dan pusat bisnis. Di sisi lain, sebagian warga harus duduk di pinggir jalan untuk sekadar bertahan hidup.
Hidup di trotoar jalanPerempuan yang duduk di samping gerobak rongsokan itu memperkenalkan dirinya sebagai Idah (52).
Baca juga: Pemprov DKI Didesak Gandeng Pengusaha Maggot untuk Atasi Sampah Jakarta
Ia mengaku telah hidup di jalanan kawasan tersebut selama sekitar empat tahun bersama suaminya.
Idah merupakan warga asli Jakarta Timur. Ia mengatakan tidak lagi memiliki rumah setelah orangtuanya meninggal dunia.
“Jadi saya cari makan sendiri sama suami,” ujar dia saat ditemui Kompas.com.
Untuk bertahan hidup, Idah bekerja sebagai pemulung. Ia mengumpulkan kardus, botol plastik, hingga kaleng bekas dari berbagai sudut jalan.
Jika hujan turun, ia mencoba peruntungan lain dengan menjual jas hujan kepada pengendara yang uangnya diperuntukan membeli jajan atau makanan untuk buka puasa.
Penghasilannya tidak menentu. Dalam kondisi normal, ia hanya bisa mendapatkan sekitar Rp 70.000 dari hasil menjual barang bekas.
Uang tersebut digunakannya untuk kebutuhan sehari-hari bersama suaminya. Untuk mandi, ia biasanya menggunakan fasilitas kamar mandi umum.
“Mandi di MCK umum di Pasar Jembatan Merah,”ucap dia.
Hidup di jalan, menurut Idah, tidak pernah benar-benar aman. Ia harus selalu waspada terhadap berbagai risiko.
Ia juga pernah mengalami penertiban oleh petugas. Dalam satu kesempatan, gerobak yang ia gunakan untuk mengangkut barang bekas sempat disita.
“Gerobak saya pernah diambil. Kalau mau ambil lagi harus ditebus sekitar Rp 1 juta,” kata Idah.
Baca juga: Uji Coba 12 Gerbong KRL Jalur Green Line Terkendala Daya Listrik
Namun ia tetap bertahan. Menjelang Lebaran seperti saat ini, ia berharap ada sedikit tambahan rezeki dari warga yang melintas.
“Kadang dapat zakat fitrah atau makanan,” kata dia.




