China menentang setiap upaya penargetan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei (56).
Militer Israel telah mengancam akan menargetkan setiap pengganti mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei, yang tewas dalam gelombang pertama serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2) lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa keputusan Iran untuk menunjuk Khamenei yang lebih muda "berdasarkan konstitusinya".
"China menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan dalih apa pun, dan kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran harus dihormati," kata Guo dikutip dari AFP, Senin (9/3).
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menganggap Mojtaba Khamenei sebagai "tokoh yang tidak berpengaruh", dan bersikeras bahwa ia harus memiliki suara dalam penunjukan pemimpin Iran yang baru.
Sebelumnya, Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai suksesor ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang wafat karena serangan gabungan Israel-Amerika Serikat. Mojtaba ditunjuk oleh para ulama Iran pada Minggu (8/3) waktu setempat.
"Diangkat dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran, berdasarkan suara yang menentukan dari perwakilan terhormat Majelis Pakar," kata badan ulama tersebut dalam sebuah pernyataan dikutip dari AFP.
Dikatakan bahwa badan ulama tersebut tidak ragu sedetik pun dalam memilih pemimpin baru, meskipun ada agresi brutal dari Amerika dan Israel.
Kabar soal terpilihnya Mojtaba ini juga diberitakan banyak media-media Iran. Seperti Tehran Times, Press TV, hingga Fart yang merupakan kantor berita Iran.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Tehran Times, Majelis Pakar, dengan suara mayoritas yang sangat besar, memperkenalkan Ayatollah Haj Seyyed Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran.
Pemimpin Republik Islam Iran sebelumnya adalah Ayatollah Ruhollah Khomeini (1979–1989) dan Ayatollah Ali Khamenei (1989–2026).





