Ini Faktor yang Bikin IHSG Babak Belur 3,27%  

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup anjlok 3,27% ke 7.337 pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3). Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham sore ini sebesar Rp 23,76 triliun dengan volume 46,63 miliar saham dan frekuensi sebanyak 2,47 juta kali.

Sebanyak 68 saham menguat, 708 saham terkoreksi, dan 41 saham stagnan. Adapun kapitalisasi pasar IHSG hari ini sebesar Rp 13.190 triliun.

Di samping itu, dari sebelas sektor yang ada di BEI, seluruhnya anjlok. Sektor yang mencatat penurunan terbesar yakni transportasi yang terperosok hingga 5,22%. Salah satu saham yang berada di zona merah di sektor ini adalah PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) turun 7,08% ke Rp 210.

Di sisi lain, bursa saham Asia juga bertengger di zona merah. Hang Seng tergelincir 1,35%, Shanghai Composite terkoreksi 0,67%, Nikkei rontok 5,20%, dan KOSPI anjlok 5,96%. Sementara Indeks Straits Times naik 1,97%.

Saham top gainers:
  • PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) naik 24,50% ke Rp 940.
  • PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) naik 13,04% ke Rp 6.500.
  • PT Indospring Tbk (INDS) naik 2,40% ke Rp 855.
Saham top losers:
  • PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) turun 14,41% ke Rp 380.
  • PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) turun 13,50% ke Rp 2.050.
  • PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) turun 9,88% ke Rp 155.

Direktur Eksekutif CSA Institute, David Sutyanto, mengatakan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan dipicu oleh dua faktor utama. Dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong pasar masuk ke mode risk-off

Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel, bahkan sempat bergerak di kisaran US$ 107–110, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global. Ia menyebut situasi tersebut membuat investor global cenderung mengurangi eksposur pada saham di pasar negara berkembang.

“Termasuk Indonesia. Itu sebabnya IHSG langsung terkoreksi cukup dalam di awal perdagangan,” kata David dalam keterangannya, Senin (9/3). 

Kedua berasal dari faktor domestik. Menurut David Indonesia masih berstatus sebagai net oil importer sehingga kenaikan harga minyak justru menimbulkan kekhawatiran bagi pasar.

Ia menjelaskan, secara simulasi setiap kenaikan US$1 harga minyak dapat menambah beban APBN sekitar Rp 9 triliun, sementara tambahan penerimaan negara hanya sekitar Rp 4 triliun. Artinya, kata David, secara neto tekanan terhadap defisit bisa bertambah sekitar Rp 5 triliun. Jika harga minyak bertahan jauh di atas asumsi APBN, kebutuhan subsidi dan kompensasi energi bahkan berpotensi meningkat hingga sekitar Rp 150 triliun dalam setahun.

“Dalam situasi seperti ini pasar juga melihat tekanan pada rupiah yang ikut melemah, sehingga risiko inflasi energi dan tekanan fiskal menjadi perhatian investor,” ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Upaya Pencarian Korban Longsor Gunungan Sampah TPST Bantargebang
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
RUPST BNI (BBNI) Setujui Dividen Rp13,02 Triliun, Setara Rp349 per Saham
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kementerian PKP Mulai Bangun 140 Ribu Rusun Subsidi di Cikarang
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Belum Berencana Naikkan Harga BBM Subsidi di Tengah Lonjakan Minyak Global
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Driver Cek Saldo Gopay, BHR Gojek 2026 Sudah Cair!
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.