Semarak Pembagian Zakat Tahunan dari  Produsen Bakpia Pathok

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Matahari tepat di atas ubun-ubun ratusan pengayuh becak, kusir andong, pengemudi ojek daring, dan sopir angkutan wisata yang antre di lahan kosong bekas pabrik tegel Kunci di kawasan Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (9/3/2026). Sebagian besar dari mereka tak menghiraukan panas yang menyengat dan tetap membentuk barisan memanjang meski jarum jam baru menunjuk angka 12. Masih satu jam lagi hingga dimulainya pembagian uang zakat oleh Bakpia Pathok 25, salah satu produsen makanan khas Yogyakarta.

Paino (52), pengemudi becak bermotor (betor), adalah salah satu yang mengantre sejak tengah hari. Setelah ”berjemur” selama sekitar jam, pria tersebut akhirnya bisa mendapat uang zakat yang didambakan itu.

”Saya setiap tahun ke sini untuk mengambil zakat. Tahun lalu isi amplopnya seratus ribu (rupiah). Tahun ini sepertinya jumlahnya masih sama,” kata Paino sembari berteduh di dalam becak milik salah satu rekannya.

Setelah temannya datang dan juga berhasil memperoleh uang zakat, Paino pun segera kembali ke tempat mangkal di dekat Mal Malioboro untuk kembali mencari nafkah.

Siang itu, warga yang sudah menjadi pelanggan penerima zakat dari Bakpia Pathok 25 tersebut kembali menjalani tradisi tahunan mereka. Jika biasanya acara pembagian zakat itu tertutup bagi media yang akan meliput, pada tahun ini produsen bakpia yang telah beroperasi sejak tahun 1980 itu mulai membuka diri.

Selama empat hari, Bakpia Pathok 25 membagikan uang zakat pada pukul 13.00-17.30 WIB. Untuk mengurangi risiko kecurangan seseorang mengambil uang zakat lebih dari satu kali, panitia mewajibkan penerima uang zakat di tempat itu didata sidik jarinya dan difoto.

”Kami ingin berbagi rezeki dengan mereka yang membantu penjualan kami. Pembagian zakat ini juga bagian dari promosi kami,” kata Siek Angling Saputra Sanjaya, penerus usaha Bakpia Pathok 25, yang lebih dikenal dengan nama Babahe di kalangan karyawannya.

Pabrik bakpia tersebut kini memiliki 600 karyawan dan saat menjelang Lebaran selalu mempekerjakan sekitar 100 pekerja musiman untuk menggenjot produksi.

Siek tidak dapat menyebutkan secara rinci berapa kuota penerima zakat dari perusahaannya itu. Jumlahnya pun diperkirakan mencapai ribuan. Sejak pertama kali digelar pada tahun 1999, jumlah penerima zakat di tempat itu terus meningkat.

Berdasarkan buku Babahe Bakpia Pathok 25: Pelipur Bara Keistimewaan Jogja (Penerbit Buku Kompas, 2025) yang ditulis M Alie Humaedi, disebutkan bahwa Bakpia Pathok 25 menjadi salah satu yang paling dikenal sekaligus produsen bakpia terbesar di Kota Yogyakarta meski bukan pemain pertama. Sentuhan cita rasa penuh kehangatan dari Tan Aris Nio, yang dilanjutkan oleh Siek Angling Saputra Sanjaya, putranya, menjadikan Bakpia Pathok 25 sebagai kuliner legendaris (Kompas.id, 24 Agustus 2025).

Selain karena cita rasanya yang khas, kesuksesan Bakpia Pathok 25 sebagai salah satu produsen bakpia utama di Yogyakarta juga, antara lain, karena loyalitas para tukang becak, kusir andong, ataupun pekerja sektor transportasi wisata lainnya. Merekalah yang setia mengarahkan para tamu penumpangnya ke pusat penjualan bakpia di kawasan Ngampilan tersebut. Hal itu menjadi salah satu faktor pendukung hubungan saling menguntungkan antara pihak produsen dan para penerima zakat tersebut terus terjalin dengan baik.

 

 

  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Minta Gencatan Senjata Total, Harus Ada Jaminan Tak Ada Serangan Lagi
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Koleksi Raya 2026 Wilsen Willim
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Produksi Minyak Irak Anjlok 70 Persen
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Puan Soal Kepala Daerah Kena OTT: Harus Evaluasi, Apa Biaya Politik Mahal?
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Ramadan Penuh Berkah, DPMPTSP Makassar Ikut Tebar Kebahagiaan Bersama Anak Panti
• 9 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.