BEKASI, KOMPAS.com — Fatimah (61), ibu mertua dari Riki Supiadi (40), datang dari Bogor, Jawa Barat, menuju TPST Bantargebang, Kota Bekasi, setelah mendengar kabar menantunya menjadi salah satu korban longsoran sampah saat bekerja sebagai sopir truk, Minggu (8/3/2026).
Fatimah tampak duduk termenung di posko pengaduan orang hilang.
Dengan tatapan kosong, ia sesekali mengusap air mata yang jatuh perlahan di pipinya sambil menunggu kabar dengan harap-harap cemas.
Tak pernah terbayang olehnya, sang menantu menjadi korban dalam peristiwa nahas tersebut.
“Dia sopir di sini. Mobilnya sudah ketemu, terus tasnya juga ada, uangnya ada, tapi orangnya enggak ada,” kata Fatimah kepada awak media, Senin (9/3/2026).
Baca juga: Fatimah Menangis Menantu Hilang Saat TPST Bantargebang Longsor: Tasnya Ada, Orangnya Enggak
Kabar yang datang mendadakMenurut Fatimah, Riki berangkat bekerja ke TPST Bantargebang sejak Sabtu (7/3/2026). Sejak saat itu, keberadaannya belum diketahui.
Fatimah mengetahui kabar tersebut dari keluarganya.
“‘Ma, Buyung (sapaan akrab Riki) kena longsor’, katanya. Pas dengar kabar itu saya kaget banget, dan langsung berangkat ke sini,” tutur dia.
Fatimah juga masih mengingat percakapan terakhirnya dengan Riki.
Komunikasi itu terjadi pada malam pertama bulan puasa ketika Riki menghubunginya untuk memberi tahu nomor telepon barunya.
Sementara itu, komunikasi terakhir Riki dengan istrinya terjadi sebelum ia berangkat bekerja pada Sabtu. Bahkan, setibanya di lokasi kerja, ia sempat melakukan panggilan video.
“Pas waktu hari Sabtu dia sampai sini dia video call,” ujar Fatimah.
Baca juga: 7 Tewas dan 6 Selamat, Ini Daftar Korban Sampah Longsor TPST Bantargebang
20 tahun jadi sopir di BantargebangDi lingkungan keluarga, Riki akrab dipanggil Buyung. Ia telah bekerja sebagai sopir truk di kawasan TPST Bantargebang sejak masih lajang.
“Anak saya sudah jadi sopir di sini sejak bujangan. Kira-kira sudah 20 tahun lebih lah sampai sekarang,” ucap Fatimah.
Selama lebih dari dua dekade bekerja di kawasan pengolahan sampah terbesar di Indonesia itu, Riki dikenal sebagai sosok yang jarang mengeluhkan pekerjaannya.
Menurut Fatimah, lingkungan kerja yang telah lama dikenalnya membuat Riki merasa nyaman menjalani profesinya.
“Dia tidak pernah mengeluh soal kerjaannya. Jadi merasa amanlah ya, maka teman-temannya juga banyak di sini,” katanya.
Kini, Riki meninggalkan seorang istri dan lima anak yang masih kecil. Anak bungsunya bahkan baru berusia dua bulan, sementara anak sulungnya masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
“Anaknya masih kecil-kecil. Ada lima,” tutur Fatimah.
Baca juga: Saat Peringatan Prabowo soal Sampah Bantargebang Jadi Kenyataan...
Di tengah aktivitas tim pencarian yang masih berlangsung di area longsor TPST Bantargebang, Fatimah memilih menyaksikan proses evakuasi salah satu jasad yang baru ditemukan oleh tim gabungan.





