Bisnis.com, JAKARTA — Bursa saham Jepang menguat pada perdagangan Selasa (10/3/2026) setelah mengalami aksi jual tajam pada hari sebelumnya. Penurunan harga minyak global dan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai konflik Iran turut meredakan kekhawatiran pasar atas potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg, indeks Nikkei sempat melonjak hingga 3,6% pada pukul 10.30 waktu Tokyo, sementara indeks yang lebih luas, Topix, menguat sekitar 3%. Penguatan terutama dipimpin oleh saham-saham teknologi dan semikonduktor, termasuk Lasertec Corp., Ibiden Co., serta Sumitomo Electric Industries Ltd. Selain itu, saham sektor perbankan dan mesin juga mencatat kinerja positif.
Penguatan pasar Jepang terjadi di tengah reli yang lebih luas pada saham-saham Asia setelah harga minyak Brent turun kembali ke bawah US$90 per barel. Penurunan tersebut terjadi setelah Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran akan berakhir “dalam waktu sangat dekat,” sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Sebelumnya pada Senin, harga minyak sempat melonjak hingga mendekati US$120 per barel, yang memicu tekanan besar di pasar saham Jepang. Lonjakan harga energi tersebut berkontribusi terhadap penurunan Nikkei paling tajam sejak April.
Kepala Riset Phillip Securities Jepang Kazuhiro Sasaki menilai penguatan pasar saat ini masih bersifat rebound teknikal setelah aksi jual besar pada hari sebelumnya.
“Kenaikan saham hari ini merupakan rebound mekanis, tetapi berpotensi berkembang menjadi reli yang lebih solid,” kata Sasaki dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/3/2026).
Baca Juga
- Perang Iran Guncang Bursa Asia, Nikkei dan Kospi Terkapar, IHSG Ikut Anjlok
- Deretan Saham Diskon di Tengah Pelemahan IHSG, Ada AKRA sampai BMRI
- Pilah-pilih Saham Andalan Asing di Tengah IHSG yang Sedang Lesu
Menurutnya, pasar mulai melihat kemungkinan konflik di Timur Tengah dapat mereda dalam waktu dekat setelah pernyataan Trump, yang mengindikasikan bahwa pemerintah AS tidak akan mengambil langkah untuk memperpanjang konflik.
Meski demikian, Sasaki mengingatkan bahwa risiko gangguan pasokan energi masih tetap ada, terutama jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat.
Sementara itu, saham teknologi dan semikonduktor dinilai menjadi pendorong utama rebound pasar pada perdagangan hari ini seiring perubahan sentimen investor. Selain itu, saham sektor perbankan juga mulai kembali menarik perhatian pasar karena ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, Chief Strategist Nomura Asset Management Hideyuki Ishiguro menilai investor masih akan berhati-hati dalam mengambil posisi, mengingat harga minyak masih berada pada level tinggi dan konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang jelas.
Dia juga menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap risiko kredit masih membayangi saham sektor keuangan.
“Karena itu, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa prospek pasar akan sepenuhnya bullish,” ujarnya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





