Mata Uang Asia Mulai Perkasa, Malaysia Paling Hebat

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang negara-negara Asia cenderung membaik pada perdagangan pagi ini, Selasa (10/3/2026), seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global. 

Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.25 WIB, dari sebelas mata uang Asia yang dipantau, delapan mata uang menguat, sementara tiga mata uang melemah terhadap dolar AS.

Penguatan paling besar dipimpin ringgit Malaysia yang melonjak 0,86% ke level MYR 3,92/US$. Yuan China menyusul dengan penguatan sebesar 0,38% ke CNY 6,88/US$, sementara rupee India turu naik 0,35% ke INR 91,81/US$.

Dari dalam negeri, rupiah Garuda turut menguat 0,32% ke posisi Rp16.880/US$. Bahkan, rupiah sempat dibuka menguat 0,62% di level Rp16.830/US$.

Selain itu, dolar Taiwan juga berada di zona hijau dengan penguatan 0,15% ke TWD 31,75/US$, disusul dong Vietnam yang naik 0,13% ke VND 26.21/US$. Dolar Singapura menguat tipis 0,04% ke SGD 1,27/US$, dan yen Jepang naik 0,01% ke JPY 157,62/US$.

Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia berada di zona hijau. Won Korea Selatan justru menjadi yang paling tertekan setelah melemah 0,66% ke KRW 1.470,45/US$. Peso Filipina turun 0,17% ke PHP 59,153/US$, sementara baht Thailand melemah tipis 0,03% ke THB 31,67/US$.

Arah pergerakan ini sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS (DXY). Pada waktu yang sama, DXY tercatat turun 0,37% ke level 98,811, menandakan minat investor terhadap dolar AS mulai mereda.

Pelemahan dolar AS terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang melawan Iran "sudah sangat tuntas", yang menenangkan kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan.

Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar bahwa perang dapat mengganggu pasokan energi global dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Komentar Trump juga mendorong penguatan pasar saham, sementara harga minyak yang sebelumnya melonjak karena kekhawatiran konflik berkepanjangan kembali memangkas penguatannya. Kondisi ini membuat permintaan aset safe haven, termasuk dolar AS, mulai berkurang.

Pada akhirnya, meredanya sentimen risiko dan pelemahan dolar AS memberi ruang bagi mata uang negara lain, termasuk mata uang Asia, untuk bergerak menguat pada perdagangan pagi ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Rejang Lebong Bengkulu Terjaring OTT KPK
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Peringatan Dini Cuaca BMKG Jabodetabek Besok 10-11 Maret 2026, Angin Kencang Berpotensi Terjadi
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Pemkot Makassar Tertibkan Terminal Bayangan, Sopir Diminta Masuk Terminal Daya
• 19 jam laluterkini.id
thumb
Prediksi Tren dari Milan Fashion Week 2026
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Hujan Lebat Mengintai Sulut Sepekan ke Depan
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.