Liputan6.com, Jakarta - Bau menyengat dari timbunan sampah menusuk hidung. Garis polisi berwarna kuning membentang panjang. Tak jauh dari gunungan sampah, warga berkerumun menyaksikan proses evakuasi.
Petugas bolak balik mengevakuasi korban longsor gunungan sampah setinggi 50 meter di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa memilukan itu terjadi Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Advertisement
Dari kejauhan, timbunan sampah yang tersisa masih menjulang tinggi, hampir setara gedung sekitar 15 lantai. Di tengah kerumunan warga yang menanti kabar pencarian korban, tersirat rasa cemas, takut, sekaligus harapan.
Wajah-wajah mereka tak lepas memandang ke arah alat berat yang terus membongkar lapisan demi lapisan sampah, seolah berharap ada kabar baik dari balik timbunan tersebut.
Di tengah hiruk pikuk aktivitas pencarian korban, warga sekitar tampak masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bagi sebagian dari mereka, longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang bukanlah peristiwa yang benar-benar baru.
Tragedi serupa pernah tercatat pada 2003, ketika longsoran sampah menimpa permukiman di sekitar kawasan TPST. Tiga tahun berselang, tepatnya pada 2006, runtuhnya Zona 3 kembali memakan korban. Dua pemulung dilaporkan meninggal dunia, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka.
Rangkaian kejadian itu seakan terus berulang. Pada Januari 2026, landasan di area TPST sempat amblas hingga menyeret tiga truk sampah ke dasar sungai. Dua bulan kemudian, gunungan sampah kembali runtuh dan menelan korban jiwa.




