-
Serangan udara Israel ke depot minyak Teheran menyebabkan polusi udara ekstrem dan hujan asam.
-
Warga mengalami gangguan pernapasan serta iritasi mata akibat gas beracun dari kebakaran minyak.
-
Pakar kesehatan memperingatkan risiko kanker dan penyakit jantung bagi penduduk yang terpapar polutan.
Suara.com - Ibu kota Iran Teheran kini sedang dibalut kecemasan luar biasa akibat polusi udara ekstrem yang menyelimuti seluruh kota.
Awan hitam pekat nampak menggantung rendah setelah jet tempur Israel menghantam instalasi penyimpanan bahan bakar strategis.
Operasi militer yang berlangsung pada Sabtu malam tersebut menargetkan infrastruktur yang diklaim sebagai penyokong kekuatan militer Teheran.
Dampaknya tidak hanya merusak fasilitas energi, namun juga meracuni ruang hidup jutaan warga sipil di sekitarnya.
Jalanan yang biasanya sibuk kini tertutup lapisan debu gelap yang sangat mengganggu aktivitas harian penduduk setempat.
Lendir hitam dilaporkan menempel pada area balkon rumah warga sementara udara di luar ruangan menjadi sangat berbahaya.
Laporan dari media internasional menggambarkan pemandangan kota yang mencekam layaknya sebuah akhir zaman yang nyata.
Kegelapan menyelimuti kota pada siang hari sehingga lampu-lampu kendaraan dan rumah terpaksa dinyalakan lebih awal.
Setidaknya terdapat empat pusat penyimpanan bahan bakar serta satu titik logistik yang hancur akibat serangan udara tersebut.
Baca Juga: Chappy Hakim: Perang AS-Israel vs Iran Bisa Berhenti Jika 3 Pihak Ini Bergerak
Pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa insiden maut ini telah merenggut sedikitnya enam nyawa dan melukai 20 orang.
Kondisi lingkungan semakin memburuk ketika hujan mulai mengguyur wilayah tersebut pada Minggu pagi (8/3/2026) setelah ledakan.
Otoritas lingkungan segera mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi jatuhnya hujan asam yang membawa zat kimia berbahaya.
Dikutip dari The Guardian, seorang aktivis dengan nama samaran Negin mengungkapkan penderitaan warga melalui pesan suara kepada media asing.
Meskipun udara sangat beracun, sebagian masyarakat tidak memiliki pilihan selain tetap beraktivitas di luar ruangan.
Beberapa sektor usaha sempat mencoba beroperasi kembali namun segera tutup karena kualitas udara yang tidak tertahankan.




