Kinerja keuangan PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) menunjukkan pertumbuhan solid sepanjang 2025. Perusahaan perkebunan kelapa sawit ini berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp1,6 triliun, meningkat 25,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,28 triliun.
Seiring dengan peningkatan tersebut, laba per saham dasar juga ikut terdongkrak menjadi Rp147, naik dari sebelumnya Rp118.
Lonjakan kinerja ini terutama ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Sepanjang 2025, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan tercatat Rp9,66 triliun, melesat 50,15% dari periode sama 2024 yang sebesar Rp6,43 triliun.
Pendapatan tersebut berasal dari segmen perkebunan sebesar Rp8,44 triliun, naik dari Rp6,14 triliun. Selain itu, kontribusi dari produk kelapa sawit dan turunannya tercatat Rp5,06 triliun, melonjak dari sebelumnya Rp1,05 triliun.
Namun, terdapat eliminasi sebesar Rp3,84 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp767,03 miliar.
Baca Juga: Emiten Sawit (TLDN) Panen Laba Rp1,1 Triliun di 2025, Melesat 34%
Dari sisi geografis, seluruh aset produktif Grup berada di Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Sepanjang 2025, penjualan neto sebesar Rp6,31 triliun berasal dari pasar domestik, sedangkan Rp3,35 triliun berasal dari pasar luar negeri.
Di tengah peningkatan pendapatan, beban pokok penjualan juga mengalami kenaikan menjadi Rp6,5 triliun, dari sebelumnya Rp4,25 triliun.
Meski demikian, perusahaan tetap mampu meningkatkan laba kotor menjadi Rp3,16 triliun, dari sebelumnya Rp2,18 triliun.
Sementara itu, laba usaha tercatat Rp2,36 triliun, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp1,86 triliun.
Baca Juga: Kemendag Dorong Kepastian Akses Sawit ke Pasar Eropa
Dari sisi neraca, hingga 31 Desember 2025, total aset perusahaan tercatat Rp9,56 triliun, naik dari Rp8,08 triliun pada akhir 2024.
Liabilitas bengkak menjadi Rp2,56 triliun dari sebelumnya Rp2,18 triliun, sementara ekuitas tumbuh menjadi Rp7 triliun dari Rp5,89 triliun.





