MAKASSAR, KOMPAS - Harga kopi arabika di Makassar dan sebagian besar wilayah di Sulawesi sekitarnya mencapai titik tertinggi. Satu kilogram kopi green beans mencapai Rp 160.000, naik puluhan persen dalam tiga bulan terakhir. Meski pasar kopi dunia terdampak perang, tetap tingginya permintaan di tingkat lokal membuat harga kopi justru semakin melambung.
Khaeruddin (42), pedagang kopi di Makassaar, Sulawesi Selatan, menuturkan, harga kopi arabika kini mencapai titik tertingginya. Setelah tahun lalu berada di kisaran Rp 120.000 per kilogram, harga kopi mencapai Rp 160.000 per kilogram atau naik sekitar 30 persen hanya dalam tiga bulan.
”Selama berdagang kopi, ini (harga) paling tinggi. Dalam kurang tiga bulan naik hingga Rp 40.000 per kg,” ucap pemilik jenama Anoaco ini, Selasa (10/3/2026).
Kenaikan ini, ia melanjutkan, terjadi secara kontinyu hampir setiap pekan. Fenomena dalam tiga bulan bahkan hampir menyamai kenaikan harga dalam sembilan tahun ia berjualan kopi.
Menurut Khaeruddin, situasi ini terjadi akibat sejumlah hal. Stok kopi di wilayah Sulsel dan sekitarnya, misalnya, mulai menipis karena telah melewati masa panen. Waktu panen anyar baru akan dimulai pada April mendatang.
Akan tetapi, alasan utama dari kondisi ini adalah permintaan di tingkat lokal yang semakin tinggi. Pertumbuhan warung kopi kian pesat, terutama Kota Makassar. Kafe, dan warung kopi hadir di dalam gang hingga kompleks perumahan.
Yakub Tato, Ketua Koperasi Produsen Kopi Petani Kampung di Mamasa, Sulawesi Barat menuturkan, selama kopi diperdagangkan, kali ini adalah masa harga tertinggi di tingkat petani. Biji kopi arabika dijual Rp 155.000 hingga Rp 160.000 per kg.
“Sudah tiga tahun harga naik terus, dari Rp 95.000 pelan naik ke Rp 120.000. Tapi tahun ini memang kenaikannya luar biasa. Semenjak ada yang namanya kopi, sekarang paling tinggi,” terang Yakub.
Tingginya harga kopi, membuat petani kian semangat dan berdaya. Petani bisa merasakan manfaat yang banyak seiring kenaikan harga di tingkat bawah. Upaya untuk penanaman, hingga perawatan terus berjalan seiring fenomena harga kopi yang terus menanjak.
Situasi ini terjadi, ia menyampaikan, karena permintaan yang begitu tinggi khususnya di pasar lokal. Laju kebutuhan mencapai delapan persen setiap tahun, tapi produksi melemah. Salah satu faktor yang membuat produksi turun adalah cuaca dan perubahan iklim.
Tingginya kebutuhan, tercermin dari permintaan yang terus datang. Ia kewalahan memenuhi permintaan dan menunda pembelian.
Saat ini ia telah kehabisan stok dan baru akan memulai masa panen bulan depan. Oleh karena itu, ia tidak begitu pusing akan pasar dunia yang berubah seiring imbas perang di Timur Tengah. Pasar lokal masih begitu kuat menyerap hasil panen.
“Kami berharap pemerintah memerhatikan alat produksi, dan persiapan panen. Hal itu untuk menjaga tanaman tetap lestari, dan berkelanjutan. Juga tentunya bantuan modal dan biaya bagi petani yang kekurangan,” tambah Yakun, yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Mamasa ini.
Permintaan kopi memang terlihat nyata di masyarakat. Kedai kopi tumbuh bak jamur di musim penghujan.
Orang tua, hingga remaja karib dengan meminum kopi, mulai dari pagi hingga pagi kembali. Indonesia, yang dulunya produsen kopi, kini menjadi salah satu pasar konsumen dengan pertumbuhan tercepat di Asia.
Konsumsi kopi Indonesia telah meningkat tiga kali lipat sejak sebelum pandemi, yakni mencapai 4,8 juta kantong pada 2025. Jika satu karung kopi setara dengan 60 kilogram kopi, total konsumsi kopi tahun lalu sekitar 288.000 ton.
Meningkatnya konsumsi kopi domestik tersebut dapat dikaitkan dengan semakin kuatnya budaya ngopi di kafe, terutama di kalangan anak muda perkotaan. Pada 2023, misalnya, pasar kedai kopi di Indonesia diperkirakan menghasilkan nilai penjualan sekitar 2,1 miliar dolar AS atau setara Rp 34 triliun. Tingkat pertumbuhan tahunannya mencapai sekitar 10 persen.
Namun, tanaman ini juga menghadapi tantangan nyata. Di kebun-kebun tropis tempat ia tumbuh, musim yang berubah menjadi ancaman. Suhu menembus 30 derajat celsius berhari-hari, hujan tak menentu, dan bunga kopi berguguran sebelum menjadi buah.
Pada 2025, Indonesia mencatat lebih dari 100 hari panas yang berisiko merusak tanaman kopi. Lonjakan suhu itu kini terasa hingga ke harga kopi dunia yang melonjak tajam.
Dalam setahun terakhir, harga biji kopi di Indonesia naik sekitar 15 persen. Di pasar global, lonjakannya lebih tajam lagi, hampir 46 persen.
Harga kopi dari sekitar 2,63 dolar AS per kilogram pada 2023 menjadi 4,86 dolar AS pada 2025. Kenaikan harga ini bukan sekadar gejolak dagang atau permainan spekulasi. Ia berkelindan dengan krisis iklim yang merambat pelan dari atmosfer ke akar tanaman.
Yosi Amelia, Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan, mengatakan, pendekatan agroforestri bisa menjaga stabilitas ekologi kebun dalam konteks perubahan iklim.
Sistem kopi dengan pohon naungan mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil, menjaga kelembaban tanah, serta mengurangi dampak suhu ekstrem dan variabilitas curah hujan. (Kompas, 20 Februari 2026).




