Napas Kedua di Jenebora: Saat Harapan Berlabuh di Ujung Dermaga

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Harapan itu mewujud dalam bentuk kapal. Bukan sembarang kapal, tapi Rumah Sakit Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli yang bersandar di Dermaga Jenebora. Selama hampir sepekan, warga Jenebora berduyun-duyun menuju arah dermaga. Tua-muda, laki-perempuan. Semua datang dengan satu tujuan: berobat gratis.

***

Jumat, 20 Februari 2026. Panas terik menyengat di Desa Jenebora, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Jelang siang, seorang ibu menggendong bayi membiru menerobos masuk ke Kantor Kelurahan yang sepekan terakhir disulap menjadi pusat kesehatan masyarakat.

Bayi bernama Ariansyah itu kaku tak bergerak. Matanya terus terpejam. Semua orang di Kelurahan langsung siaga, sama-sama merasa pasti ada hal tak beres. Mereka bertanya-tanya dalam hati: Apakah bayi itu masih hidup? Apa yang terjadi dengannya?

Ibunda sang bayi, Siti Mulyana, tampak tegang dan panik. Ia berlari hanya dengan sebelah sandal. Air matanya menggenang di pelupuk. Di belakangnya, beberapa orang turut berjalan tergesa-gesa. Seorang perempuan berbisik, “Anaknya jatuh ke laut.”

Melihat situasi darurat tersebut, Peleton Kesehatan Yonif TP 826/BTB yang membantu di tempat itu langsung membuka jalan. Mereka mengarahkan Siti—dengan Ariansyah dalam gendongan—ke aula yang dilengkapi brankar atau tempat tidur beroda. Ariansyah langsung dibaringkan di ranjang dan diberi pertolongan pertama.

Yang mengejutkan, di aula itu tengah berlangsung Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk perangkat desa dan tenaga kesehatan di Jenebora maupun Penajam Paser Utara. Pelatihan itu diselenggarakan oleh tim medis Rumah Sakit Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli.

Saat pintu aula dibuka dan Ariansyah direbahkan di brankar, Dokter Louis Martin Christoffel di bagian depan aula bahkan sedang mempraktikkan resusitasi jantung paru (RJP)—atau lebih dikenal dengan istilah cardiopulmonary resuscitation (CPR)—pada boneka bayi.

Pacu Jantung di Pesisir Jenebora

Tak ada yang menyangka pelatihan itu dalam sekejap berubah menjadi tindakan darurat medis sungguhan. Ariansyah langsung ditangani oleh tim dokter dari doctorSHARE yang bertugas di RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli.

doctorSHARE adalah organisasi nonprofit yang fokus pada layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan, sedangkan Bayan Peduli ialah inisiatif filantropi korporasi dari pemegang saham pendiri PT Bayan Resources Tbk. yang bertujuan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

Kerja sama antara doctorSHARE dan Bayan Peduli merupakan kolaborasi strategis yang memadukan penanganan dan keahlian medis dengan dukungan pendanaan dan logistik yang kuat. Sementara doctorSHARE menyediakan tenaga medis dan manajemen rumah sakit kapal, Bayan Peduli memberikan sokongan finansial masif untuk pengadaan kapal dan biaya operasionalnya ke berbagai wilayah pesisir.

Di aula Kelurahan, Ariansyah yang sempat kaku membiru akhirnya melewati masa krisis dengan bantuan tim dokter RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli. Ia diberi CPR dan beberapa waktu kemudian menangis kencang tanda siuman.

Meski napasnya tak terhenti, kondisi Ariansyah memerlukan pemantauan lebih lanjut, sedangkan alat-alat medis di Kelurahan terbatas. Hal itu terlihat ketika salah satu dokter meminta nakes menyiapkan tabung oksigen untuk membantu pernapasan Ariansyah.

“Tapi selang oksigennya belum dipasang, Dok,” sahut seorang nakes lokal.

Tim dokter akhirnya memutuskan untuk membawa bayi itu ke RS Kapal yang memiliki peralatan medis lebih lengkap. Dokter Tony Hardian, spesialis bedah RS Hermina Padang yang tergabung dalam doctorSHARE, bergegas menggendong Ariansyah yang tubuhnya dibungkus sarung kering.

Di luar Kantor Kelurahan, seorang tentara telah siap dengan motornya. Ia langsung membonceng Dokter Tony yang mendekap Ariansyah. Mereka melaju ke RS Kapal yang bersandar di Dermaga Jenebora, tak jauh dari Kantor Kelurahan.

Tak lama kemudian, Dokter Louis Martin Christoffel menyusul. Ia bergabung dengan Dokter Tony di Ruangan Post-Operasi Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli—ruangan pemulihan tempat Ariansyah dirawat.

“Kami tidak tahu berapa lama anak ini terendam air laut. Jadi kami harus memastikan supaya paru-parunya bersih. Itu prioritas,” kata dr. Louis, anggota doctorSHARE yang merupakan dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif di RS Pantai Indah Kapuk.

Usai menangani Ariansyah, dr. Louis bercerita bahwa bayi 13 bulan itu awalnya membiru dan mengalami dispnea (gangguan bernapas). Setelah dilakukan resusitasi (CPR) dan diberi oksigen, disedotlah cairan yang masuk ke saluran napas maupun tubuhnya.

Penyedotan lewat selang yang dipasangkan ke lambung berhasil mengeluarkan 100–150 cc cairan dari tubuh Ariansyah. Jumlah ini cukup banyak untuk bayi seumuran Ariansyah yang kapasitas lambungnya umumnya 200–300 cc.

Setelah saluran napas Ariansyah bersih, dokter menginfusnya dan memasukkan cairan antiradang dan antibiotik untuk mencegah peradangan dan infeksi. Di RS Kapal, tim dokter juga memberikan terapi inhalasi agar bronkus atau saluran napas si bayi tidak menyempit, sehingga aliran oksigen ke tubuhnya kembali lancar.

Begitu kondisi Ariansyah membaik, ia dirujuk ke rumah sakit di darat—yang lebih cepat dicapai lewat jalur laut—untuk monitoring lanjutan. Dari beberapa pilihan rumah sakit, RSUD Penajam Paser Utara—yang satu kabupaten dengan Jenebora—menjadi pilihan orang tua Ariansyah.

Ariansyah yang masih terinfus, dengan pengawalan ketat tim dokter RS Kapal serta didampingi ibu-bapaknya, dipindahkan ke speedboat. Tanpa membuang waktu, kapal cepat itu meluncur membelah ombak, menghabiskan 20 menit perjalanan laut menuju Pelabuhan Penajam.

“Untung ada RS Kapal,” kata warga yang berkerumun di sekitar RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli untuk mengamati proses penyelamatan Ariansyah.

Banyak di antara mereka mengangguk-angguk setuju; merasa ceritanya bisa berbeda jika RS Kapal hari itu tidak ada di Jenebora. Mereka lega karena Ariansyah bisa ditangani dengan cepat dan tepat di masa krisisnya.

Yang membuat warga makin bersyukur adalah: Jumat itu sebenarnya hari terakhir pelayanan medis gratis RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli di Desa Jenebora. Esoknya, kapal akan mengangkat jangkar dan kembali berlayar. Tujuan berikutnya adalah Kalimantan Selatan.

Usai Lebaran, RS Kapal akan melayani warga di Pulau Kerumputan dan Pulau Marabatuan yang masuk ke Kecamatan Kepulauan Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Kalsel. Dua pulau di tenggara Kalimantan ini posisinya lebih terisolasi dari Jenebora.

Tak seperti perairan Jenebora yang berada dalam naungan ketenangan Teluk Balikpapan, Pulau Kerumputan dan terutama Marabatuan terletak di lintasan arus yang tak pernah tenang.

Di sana, pertemuan perairan Laut Jawa dan Selat Makassar kerap menciptakan gelombang yang mampu mengurung pulau itu berhari-hari—mengakibatkan perahu-perahu nelayan tertambat lesu di dermaga, dan membuat Marabatuan menjadi dunia yang terputus.

Berbeda dengan Jenebora yang tantangannya ada pada akses darat, Marabatuan memiliki rintangan berupa “tembok air” yang sewaktu-waktu bisa memutus akses laut warganya. Situasi inilah yang menanti RS Kapal di cakrawala selatan.

“Pulau-pulau itu sangat jauh dari rumah sakit. Untuk ke RS, penduduk harus menyeberang laut. Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat [untuk menghadirkan RS Kapal di sana],” kata Direktur Pelaksana doctorSHARE Tutuk Utomo Nuradhy di RS Kapal, Rabu (18/2).

Misi Kemanusiaan yang Berlayar

Rumah Sakit Kapal (RSK) dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli pertama kali diluncurkan pada November 2025, dan sampai sekarang telah melayani sekitar 3.800 pasien di Kalimantan Timur. Ke depannya, dengan titik-titik pelayanan yang terus bertambah ke Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, sampai Maluku Utara, masyarakat yang terbantu diharapkan semakin banyak.

“Kami sangat optimistis bahwa ini adalah inisiasi yang harus diteruskan dalam jangka panjang. Di satu region saja (Kaltim) sudah banyak penerima manfaatnya. Ini sangat baik dan memotivasi kami untuk melanjutkan program pelayanan kesehatan gratis ini ke provinsi-provinsi lain, terutama yang tertinggal,” kata Direktur PT Bayan Resources Tbk., Merlin, di kantornya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (24/2).

Total ada 14 lokasi yang disinggahi RSK dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli hingga Oktober 2026. Sebelum ke Desa Jenebora di pesisir Kabupaten Penajam Paser Utara, RSK telah lebih dulu mendatangi Desa Manubar, Maloy di Sangkulirang, dan Sandaran; ketiganya di Kabupaten Kutai Timur, pada November 2025.

Warga yang berobat ke RS Kapal ini tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun.

Upaya mewujudkan masyarakat yang lebih sehat di daerah-daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) merupakan komitmen kemanusiaan dari Bayan Group dan doctorSHARE yang telah menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama sejak Juni 2024.

“... Indonesia ini negara kepulauan. Banyak pulau terpencar-pencar. Artinya, banyak masyarakat yang tinggal di daerah pesisir yang sulit terjangkau. Kondisi geografis ini—dan kurangnya pendanaan [daerah]—belum memungkinkan bagi mereka untuk mencapai akses kesehatan yang layak,” kata Merlin.

Itu sebabnya, lanjutnya, “... kami mencoba menjangkau masyarakat di sana agar mereka juga mendapatkan hak pelayanan kesehatan.”

Secara terpisah, Tutuk mengamini. Menurutnya, Rumah Sakit Kapal adalah jawaban bagi persoalan akses kesehatan di Indonesia.

“Meski Indonesia ini kepulauan, kami melihat bahwa pendekatan yang sering dijadikan referensi adalah paradigma kontinental (berbasis daratan), yakni membangun fasilitas kesehatan sebanyak-banyaknya. Sementara dari sisi efisiensi dan efektivitas, dengan 17.000 pulau di Indonesia, hampir tidak mungkin membangun fasilitas kesehatan di masing-masing pulau. Jadi kami meyakini Rumah Sakit Kapal adalah solusi yang paling pas,” papar Tutuk.

RS Kapal adalah wujud pendekatan maritim di sektor kesehatan. Alih-alih menunggu pasien datang ke gedung RS di daratan, rumah sakitlah yang bergerak mendekati pasien dalam bentuk kapal yang berlayar. Dalam hal ini, laut berperan sebagai “jalan tol” untuk menjangkau masyarakat di pesisir dan pulau-pulau terpencil.

BPJS Kesehatan mengklasifikasikan RSK dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli setara dengan RS tipe C yang memiliki 4 pelayanan spesialis dasar, yakni penyakit dalam, bedah, kesehatan anak, dan kebidanan/kandungan (obgin). RSK ini juga mempunyai dokter spesialis anestesi yang berperan krusial dalam tindakan operasi di atas kapal.

Poliklinik Gigi juga tersedia di kapal ini—dan menjadi favorit warga Jenebora. Selama sepekan di desa itu, tiap harinya dokter gigi RSK melayani 50-70 pasien, lebih banyak daripada pasien Poli Umum dan Poli Penyakit Dalam yang sehari rata-rata 50 pasien.

Total pasien Poli Gigi hingga hari terakhir pelayanan medis RSK di Jenebora mencapai sekitar 300 orang. Banyak warga pesisir yang giginya bermasalah, baik berlubang, keropos, atau perlu dicabut. Ini karena pola hidup dan kurangnya akses ke fasilitas kesehatan gigi

Layanan kesehatan gigi terhitung mahal, dan masyarakat yang hendak menggunakan BPJS untuk mengobati giginya harus mendatangi Poli Gigi di puskesmas. Masalahnya, Puskesmas Penajam berjarak 30–40 km via jalur darat dari Desa Jenebora dengan waktu tempuh 1,5 jam karena kondisi sebagian jalannya masih berupa tanah.

Lewat jalur laut, jarak itu bisa dipangkas jadi 5–7 km saja dengan waktu tempuh 15–25 menit naik kapal klotok (perahu kayu bermesin yang dieselnya berbunyi nyaring klotok-klotok-klotok).

Secara umum, fasilitas medis yang terdapat di RSK dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli antara lain meliputi poli bedah (ruang operasi, pre-operasi, dan pemulihan), poli gigi, laboratorium, farmasi/apotek, ruang obat, ruang rekam medis, ruang sterilisasi alat, ruang penyimpanan limbah medis kering, ruang pengolahan limbah, ruang tunggu pasien di selasar kapal, ruang administrasi, ruang makan, dapur, ruangan staf, ruangan ABK, ruang ibadah, dan ruang mesin.

“Jadi Rumah Sakit Kapal ini sudah sama dengan rumah sakit di darat pada umumnya—punya izin, punya standar, diawasi pemerintah, dan memiliki laporan [kegiatan],” kata Tutuk.

RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli dibangun pada 2024 dan mengantongi izin operasional tahun 2025. Setelahnya, RSK ini langsung melakukan pelayaran dan pelayanan perdana pada November 2025 di tiga desa di Kutai Timur.

Untuk menentukan daerah mana saja yang akan disinggahi RS Kapal, setidaknya ada tiga hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Status kesehatan suatu daerah (berdasarkan angka stunting, angka kematian ibu, jumlah pemeriksaan kehamilan rutin, jumlah kunjungan ke puskesmas atau puskesmas pembantu, serta jumlah kasus diare dan tuberkulosis—yang semuanya dapat dilihat di SSGI, Survei Status Gizi Indonesia, Kementerian Kesehatan).

  2. Hasil pemetaan wilayah (daerah mana yang masuk kategori DBTFMS, Daerah Belum Tersedia Fasilitas Kesehatan Memenuhi Syarat, dan ASAL, Daerah Sulit Akses Layanan Kesehatan. Dari identifikasi itu, RSK akan memilih daerah-daerah pesisir untuk mengatur jalur pelayaran, dengan mengecek keamanan logistik dan kesediaan suplai solar—sebagai bahan bakar mesin kapal—pada rute itu.

  3. Survei ke lokasi dan verifikasi kualitatif isu kesehatan di daerah tersebut lewat informasi dari para relawan dan kolega.

Setelah ketiga hal tersebut ditimbang dan hasilnya didapat, tim doctorSHARE akan melakukan observasi lapangan untuk menentukan titik sandar RS Kapal di daerah yang bakal dikunjungi.

RS Kapal membuat daerah-daerah terpencil mendapat bantuan stok obat dan merasakan pelayanan dokter-dokter spesialis yang selama ini berpusat di kota-kota besar, terutama di Pulau Jawa.

“Jawa memang paling padat penduduk. [Ironisnya] di luar Jawa, atau bahkan di Jawa yang pelosok, pesisir, banyak area yang kesusahan mendapat obat sesimpel parasetamol. Padahal, kalau di kota, tinggal masuk toko bisa langsung beli,” ujar Koordinator RSK dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli, dr. Monica Gloria, di Jenebora, Kamis (19/2).

Selain stok obat minim, sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan juga jadi problem di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.

“Kadang gedung puskesmas atau puskesmas pembantu ada, tapi dokter atau perawatnya nggak ada. Kadang dokter atau perawat ada, tapi peralatannya nggak ada. Nah, di Indonesia banyak sekali daerah seperti itu—entah SDM-nya ada tapi sarananya nggak ada, atau sarananya ada tapi SDM-nya nggak ada,” kata dr. Monica.

Padahal, dokter tanpa sarana pendukung tidak bisa melakukan apa-apa. Minimal harus ada obat-obatan dan alat periksa untuk melayani pasien.

“Dokter bukan pesulap yang elus-elus pasien lalu pasiennya bisa langsung sembuh,” lanjut Monica, dokter asal Manado yang mengenyam pendidikan kedokteran di FK Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

Masalah lainnya adalah akses terbatas ke daerah-daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.

“Membuka akses memang tidak mudah. Mungkin di beberapa tempat dianggap tak sepadan karena penduduknya nggak sebanyak di wilayah lain. Tapi sebetulnya, meski hanya ada dua manusia di situ, mereka berhak atas layanan kesehatan. Semua orang berhak untuk hidup dengan layak dan sehat,” tegas dr. Monica.

Kolaborasi Kuat Sektor Swasta, Masyarakat Sipil, dan Pemerintah

Kesehatan—dan pendidikan—adalah isu besar yang menjadi hak dasar rakyat. Isu besar artinya biaya besar. Maka, pelayanan kesehatan di wilayah terpencil atau 3T membutuhkan anggaran besar dan keterlibatan banyak pihak.

“Di wilayah-wilayah 3T itu, pemerintahnya pasti kesulitan. Itulah sebabnya perlu kolaborasi holistik antara pemerintah, pihak swasta seperti Bayan Peduli, dan masyarakat sipil seperti doctorSHARE; termasuk universitas dan media,” jelas Tutuk yang bergabung dengan doctorSHARE sejak 2018 dan dipercaya menjadi Direktur Pelaksana sejak 2023.

Kolaborasi holistik antarsektor misalnya terlihat di Jenebora. Pelayanan medis gratis RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan Peleton Kesehatan Batalyin Infanteri Teritorial Pembangunan 826/Benuo Taka Bekerai.

Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor datang langsung ke Jenebora untuk membuka kegiatan pelayanan medis gratis itu. Ia menyatakan, pemerintah PPU masih terus berupaya untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Ia juga berterima kasih kepada tim medis dan sektor swasta yang membawa harapan baru bagi masyarakat.

Layanan medis tersebut tak hanya menyasar warga Jenebora, tapi juga Gersik dan Pantai Lango. Ketiga kelurahan di pesisir ini masih satu garis pantai dan sama-sama masuk wilayah administratif PPU. Ketiganya relatif terisolasi karena akses daratnya sulit meski posisi geografisnya berada tepat di seberang Balikpapan.

Tak heran kapal klotok menjadi denyut nadi masyarakat ketiga desa itu, karena akses darat belum mulus dan harus berputar jauh.

Dinas Kesehatan PPU mengatakan, pemilihan Jenebora, Gersik, dan Pantai Lango sebagai lokasi kedatangan RS Kapal memang telah direncanakan karena fasilitas kesehatan di ketiga wilayah ini masih terbatas. Mereka hanya memiliki puskesmas pembantu, tidak punya puskesmas apalagi rumah sakit.

“[Faskes di Jenebora] cuma puskesmas pembantu (pustu) dan pondok bersalin desa (polindes). Alat-alat pemeriksaan juga seadanya. Jadi semampunya saja kami berikan [pelayanan]. Kalau sudah tidak mampu, kami rujuk ke faskes yang lebih memadai,” kata Kepala Pustu Jenebora, Bidan Rosalin.

Bila sewaktu-waktu ada masalah, Pustu berkonsultasi dengan puskesmas induk di Penajam.

“Konsultasi dokter juga ke Puskesmas Penajam. Dari sini ke sana 20 menitan lewat laut naik speedboat, lanjut naik kendaraan umum atau ojek 10–15 menit. Kalau jalur darat jauh memutar 1,5 jam,” jelas Rosalin yang tiap hari pulang pergi ke Pustu Jenebora dengan speedboat karena rumahnya di Balikpapan.

Selain Rosalin, ada dua bidan lain—warga asli Jenebora—yang bertugas di desa itu. Jadi, hanya 3 bidan (dua di Pustu dan satu di Polindes) untuk melayani 3.000 penduduk Jenebora.

Kepala UPT Jaminan Kesehatan Daerah PPU Ahmad Padaelo menyatakan, Pemkab PPU ingin membangun puskesmas induk untuk menjangkau Jenebora, Gersik, dan Pantai Lango. Namun usaha itu belum membuahkan hasil, dan karenanya masih terus diupayakan.

Keterbatasan seperti itulah yang hendak ditambal oleh kehadiran RS Kapal dr. Lie Dharmawan hasil kemitraan doctorSHARE dan Bayan Peduli.

“Kami melihat urgensi yang cukup tinggi di bidang kesehatan. Mendapatkan akses kesehatan adalah hak seluruh masyarakat Indonesia. Perlu kolaborasi erat antara swasta dan pemerintah untuk mempercepat pemerataan kesehatan di area-area yang tertinggal,” kata Merlin.

Sektor swasta bisa melahirkan gagasan dan terobosan strategis; pemerintah bisa membimbing secara teknis maupun nonteknis. Dengan demikian, tujuan nasional dapat tercapai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menko PM: Pemberdayaan Masyarakat Harus Jadi Arus Utama Pembangunan
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Prabowo Optimistis Tak Perlu Impor BBM, Bisa Manfaatkan Sawit hingga Tebu
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Puan Sampaikan Duka DPR Atas Wafatnya Ali Khamenei Imbas Serangan AS-Israel
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Gideon Badminton Academy Kembalikan Biaya Latihan Atlet yang Tembus Pelatnas Cipayung, Ini Alasannya
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Purbaya Sebut Banyak Ekonom Berkontribusi pada Pelemahan Rupiah dan IHSG
• 6 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.