Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Christina Aryani membahas peluang penguatan kerja sama penempatan pekerja migran Indonesia ke Jerman melalui program pendidikan vokasi Ausbildung.
Hal tersebut disampaikan Christina saat menerima Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, Abdul Kadir Jailani, di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.
Christina menilai program Ausbildung memiliki potensi besar sebagai pintu masuk bagi tenaga kerja Indonesia untuk bekerja sekaligus meningkatkan keterampilan di Jerman.
"Tadi Pak Dubes menyampaikan mengenai program Ausbildung yang memang kami juga melihat sebagai peluang menjanjikan dan bisa menjadi entry point bagi pekerja migran Indonesia untuk bekerja di Jerman," kata Christina Aryani dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 10 Maret 2026.
Program Ausbildung sendiri merupakan sistem pendidikan vokasi yang mengombinasikan pembelajaran teori dan praktik kerja secara langsung di industri. Dalam skema ini, peserta menjalani sekitar 30 persen pembelajaran teori dan 70 persen praktik kerja.
Menurut Christina, model pendidikan tersebut memungkinkan peserta memperoleh pengalaman kerja sekaligus kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri di Jerman.
Dalam pertemuan itu, Dubes Abdul Kadir Jailani juga mendorong agar Kementerian P2MI dapat menjadi pengampu atau leading sector dalam pengembangan serta pengelolaan program Ausbildung bagi calon pekerja migran Indonesia.
Menanggapi hal itu, Christina menyatakan pihaknya menyambut baik usulan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan bagi pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri.
"Kami tentu menyambut baik usulan tersebut. Bagi Kementerian P2MI, yang terpenting adalah memastikan setiap pekerja migran Indonesia yang berangkat ke luar negeri mendapatkan pelindungan yang optimal," ujarnya.
Ia menambahkan, Kementerian P2MI juga terbuka untuk melakukan dialog lebih lanjut dengan pemerintah Jerman dan berbagai pemangku kepentingan guna merancang mekanisme kerja sama yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain membahas program Ausbildung, diskusi antara Christina dan Abdul Kadir Jailani juga menyinggung potensi kebutuhan tenaga kerja di industri semikonduktor di Jerman. Namun, kebutuhan tersebut masih akan dikaji lebih lanjut.
Christina menyebut Indonesia memiliki potensi besar dalam penyediaan tenaga kerja terampil yang berasal dari berbagai institusi pendidikan vokasi.
"Ada sekitar 12 kementerian dan lembaga yang memiliki sekolah vokasi. Ini menjadi potensi suplai tenaga kerja terampil yang sangat besar. Tinggal bagaimana kita mendesain program dan memastikan kompetensi pekerja migran kita sesuai dengan kebutuhan industri di luar negeri," ucapnya.
Editor: Redaksi TVRINews





