Meluasnya konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran berdampak pada tersendatnya distribusi minyak mentah via Selat Hormuz. Kondisi ini menyebabkan lonjakan harga di pasar internasional.
Saat ini, harga minyak mentah Brent berada pada kisaran USD 91,45 per barel, sementara asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar USD 70 per barel.
Pengamat Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengatakan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia, harga keekonomian BBM akan lebih besar dibandingkan dengan harga yang ditetapkan saat ini dengan subsidi.
Yayan menghitung dengan dua skenario, yakni skenario optimistis yakni penutupan Selat Hormuz bertahan selama 1-2 minggu ke depan, sementara skenario terburuk yakni bertahan 30-60 hari, dengan asumsi harga kembali normal setelahnya.
Dia memprediksi, dengan skenario terburuk saat penutupan Selat Hormuz, harga minyak mentah bisa melonjak hingga mendekati USD 130 per barel. Kemudian setelah dibuka kembali, harga minyak mentah akan mengalami normalisasi dan perlahan turun pada kisaran USD 80-90 per barel.
Dengan demikian, terdapat kenaikan harga keekonomian BBM bersubsidi Pertalite dan Solar, yakni masing-masing dapat melonjak hingga Rp 17.500 dan Rp 20.000 per liter. Adapun saat ini, Pertalite dibanderol pada Rp 10.000 dan Solar masih seharga Rp 8.000 per liter.
"Sehingga ketika harga minyak dunia mempengaruhi terhadap harga keekonomian Pertalite dan Solar semakin mahal, sehingga gap harga antara harga keekonomian dan harga Subsidi ini menyebabkan biaya subsidi pemerintah semakin membengkak," ungkap Yayan saat dihubungi kumparan, Selasa (10/3).
Dengan beban subsidi yang semakin membengkak sesuai skenario ini, pemerintah diperkirakan harus menyediakan subsidi BBM untuk membayar selisih harga keekonomian selama 60 hari, dengan rata-rata subsidi sebesar Rp 1,2-1,3 triliun per hari.
Kemudian, kata Yayan, beban ini menurun selama masa normalisasi pada hari ke-61 hingga 180, menjadi normal di harga sebelumnya dengan rata-rata subsidi per hari sebesar Rp 0,4-0,5 triliun per hari.
"Jadi ada di Rp 81,2 triliun selisih antara subsidi dan kenaikan harga minyak dengan baseline perang krisis untuk Pertalite dan Solar," jelas Yayan.
Founder dan Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menjelaskan dampak harga minyak mentah terhadap subsidi energi dihitung berdasarkan tahun fiskal berjalan atau 1 tahun anggaran.
"Jadi, tidak perlu langsung reaktif dalam menyikapi hal ini dengan langsung menaikkan harga BBM subsidi saat ini. Perkembangan yang terjadi tentu perlu dimonitor secara saksama dengan menyiapkan antisipasi," katanya.
Kendati demikian, Pri Agung menilai jika perang di Timur Tengah berlangsung lama, sudah dipastikan harga minyak akan terus naik akan berdampak pada inflasi.
"Memang, setiap kenaikan harga minyak USD 1 per barel lebih tinggi daripada asumsi APBN, hal itu berpotensi akan menambah defisit yang terkait subsidi energi ini hingga Rp 6-7 triliun," ungkapnya.
"Tapi ini risiko yang tidak hanya dirasakan oleh Indonesia tapi semua negara. Jadi, sebaiknya kita semua mengelola ekspektasi juga, jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin kita hindari juga," pungkas Pri Agung.




