Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berbalik menguat setelah sempat menembus Rp17.000 per dolar AS di tengah ketidakpastian global akibat memanasnya hubungan antara AS dan Iran.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pelemahan rupiah belakangan ini belum berdampak pada fundamental perekonomian Indonesia dan perlu dilihat dalam konteks dinamika global yang sedang bergejolak.
Menurut Fakhrul, dalam banyak episode ketidakpastian global, rupiah memang sering mengalami fase overshooting, sebelum akhirnya kembali menemukan keseimbangan.
“Dalam kondisi shock global seperti sekarang, dengan ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, dan penguatan dolar AS, pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat daripada fundamental ekonomi. Karena itu kita sering melihat rupiah bergerak melemah lebih dulu,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (10/3/2025).
Namun, apabila melihat indikator dasar ekonomi, dengan pertumbuhan yang masih terjaga, inflasi yang relatif terkendali, dan stabilitas sektor keuangan yang masih baik, dia menilai fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
"Karena itu Bank Indonesia juga menyampaikan bahwa pergerakan rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi domestik,” kata Fakhrul.
Dia menambahkan, secara historis, setelah fase pelemahan yang cukup dalam, rupiah justru sering menunjukkan kemampuan untuk menguat kembali secara tajam ketika tekanan eksternal mulai mereda.
“Pasar keuangan sering bergerak terlalu jauh dalam satu arah. Dalam beberapa episode sebelumnya kita melihat rupiah bisa overshoot lebih dulu, tetapi ketika sentimen global mulai stabil dan arus dolar kembali masuk, penguatannya juga bisa cukup cepat,” jelasnya.
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kebijakan moneter pemerintah juga cenderung menjadi perhatian karena memiliki bias untuk lebih berhati-hati atau bahkan sedikit pengetatan.
“Ketika harga energi naik dan tekanan global meningkat, ruang untuk pelonggaran kebijakan biasanya menjadi lebih sempit. Karena itu pasar juga akan menunggu bagaimana koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan ke depan,” katanya.
Menurut Fakhrul, koordinasi kebijakan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar.
Namun, satu hal yang tetap perlu diwaspadai adalah apabila tekanan global berlangsung terlalu lama dan mulai mempengaruhi ekspektasi inflasi domestik serta stabilitas pasar obligasi, karena dalam kondisi seperti itu tekanan terhadap rupiah bisa menjadi lebih persisten.
"Kebijakan pemerintah harus koheren dan opsi kebijakan seperti pemangkasan Anggaran MBG tetap harus dipertimbangkan untuk dilaksanakan," tegasnya.
Fakhrul menambahkan, stabilitas rupiah selanjutnya bukan hanya soal intervensi bank sentral, tapi juga soal kredibilitas keseluruhan kerangka kebijakan ekonomi, tentang bagaimana stabilitas nilai tukar, inflasi, dan disiplin fiskal bisa berjalan seimbang.
Dia menilai, selama fundamental domestik tetap terjaga dan koordinasi kebijakan berjalan dengan baik, pelemahan rupiah saat ini lebih merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap guncangan global.
“Dalam sejarahnya, rupiah memang sering mengalami tekanan lebih dulu ketika dunia sedang bergejolak. Tetapi ketika tekanan eksternal mulai mereda dan pasar kembali melihat fundamental ekonomi dengan lebih jernih, rupiah juga memiliki kemampuan untuk pulih lebih cepat daripada yang banyak orang perkirakan,” kata Fakhrul.





