VIVA –Selain berpuasa, zakat fitrah juga menjadi kewajiban yang harus dilakukan umat muslim di bulan ramadhan. Zakat fitrah merupakan zakat yang wajib dikeluarkan oleh umat Islam, baik laki-laki, perempuan, dewasa, maupun anak-anak sebagai bentuk santunan kepada fakir miskin.
Zakat Fitri dikeluarkan sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang menodai puasa, seperti dalam hadis berikut:
"Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kata-kata tak berguna dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa mengeluarkannya sebelum shalat Idul Fitri, maka itu adalah zakat yang diterima. Bila ia mengeluarkannya setelah shalat Idul Fitri, maka itu menjadi sedekah biasa," (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Bebicara mengenai zakat fitrah, banyak publik yang masih bertanya terkait dengan mana yang lebih afdol membayarkan zakat fitrah menggunakan beras atau menggunakan uang. Terkait dengan hal ini, Ustaz Khalid Basalamah Angkat bicara. Disebutnya bahwa berdasarkan pendapat ulama, zakat menggunakan makanan pokok.
”Tentu saja yang paling kuat pendapat ulama adalah menggunakan makanan pokok,”kata beliau dikutip dari saluran YouTube, Rabu 11 Maret 2026.
Maka dengan itu, maka zakat yang dianjurkan dan paling diberikan adalah berupa beras sesuai dengan makanan pokok Indonesia.
”Karena kita di Indonesia makanan pokoknya beras maka kita pakai beras,” jelasnya.
Pendapat senada juga diungkap oleh Ustaz Abdul Somad. Beliau menyebut bahwa jika mengacu pada mahzab Syafii maka zakat dianjurkan menggunakan beras.
”Kalau mau konsisten dengan mahzab Syafii, bawa beras,” kata beliau dikutip dari YouTube.
Di sisi lain, UAS juga menghimbau agar masyarakat tidak membeli beras di masjid untuk dizakatkan. Beliau menegaskan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan, kecuali amil zakat sudah menyiapkan beras khusus untuk dizakatkan kepada umat.
“Ini banyak orang ’saya mahzab Syafii pakai beras pakai duit sampai di masjid dia beli beras. Beras apa yang kau beli, mana ada masjid jual beras. Jual belinya saja tidak sah, kecuali amil itu di belakang dibungkus (beras) banyak-banyak ada 1.000 bungkus ’aku beli beras ini dengan harga Rp 25 ribu tunai aku bayarkan zakat fitrah untuk anakku’,” jelas beliau.





