Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi pasar modal Tanah Air yang tengah ditekan berbagai sentimen negatif dinilai kian sulit diprediksi arah ke depannya. Kunci pengelolaan portofolio di tengah laju pasar yang fluktuatif kini terletak pada upaya diversifikasi aset.
Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu mengatakan upaya diversifikasi portofolio menjadi salah satu strategi Sinarmas AM dalam meracik reksa dana. Pasalnya, pasar modal sulit diprediksi terlebih di tengah kondisi volatilitas yang kian tinggi.
”Jadi dalam mengatur porto folio kita tentu tidak bisa melakukan market timing. Itu yang mungkin perlu dicatat dari investor. Market timing itu sulit dilakukan. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah kita melakukan diversifikasi,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, kondisi pasar keuangan saat ini tidak hanya digerakkan oleh peristiwa, melainkan terdapat perubahan persepsi risiko investor akibat berbagai ketidakstabilan yang terjadi di global.
Perubahan persepsi risiko investor yang berubah akan turut memberikan perubahan terhadap aset kelas dan membuat investor cenderung menerapkan strategi risk off. Alhasil, kondisi emerging market tertekan lantaran ditinggal investor asing ke aset-aset safe haven.
Hal itu tampak dari kinerja Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang hingga perdagangan hari ini tertekan hingga 13,95% YoY ke level 7.440,92. Sementara itu, yield acuan obligasi RI telah melemah ke level 6,66% pada perdagangan hari ini.
“Yang terjadi di aset-aset berisiko, terjadi flight to quality. Pindah ke aset-aset yang lebih dianggap aman seperti dolar AS, emas. Untuk itu makanya kalau dari sisi kita, investasi di tengah ketidakpastian, yang dilakukan adalah diversifikasi,” tegasnya.
Strategi diversifikasi itu juga diterapkan Sinarmas AM dalam rencana penerbitan produk anyar pada tahun ini. Sedikitnya terdapat 3 produk baru yang akan diterbitkan perusahaan pada tahun ini.
Produk anyar pertama tahun ini, Global Simas S&P 500 ESG Syariah telah terbit pada 5 Maret 2026 lalu. Sementara itu, produk ETF emas ditargetkan launching pada Juni 2026 dan produk berbasis instrumen investasi dari China diprediksi rampung pada paruh kedua 2026. Namun, Genta tidak terang menjelaskan underlying asset produk terakhir.
”Jadi ketika ketidakpastian cukup tinggi, diversifikasi menjadi kunci. Diversifikasi itu tidak sembarang untuk menaruh aset kelas di seluruh tempat, tetapi bagaimana kita bisa memetakan mana yang baik untuk tujuan investasi kita dan risk appetite kita,” tambahnya.





