BANDUNG, KOMPAS- Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berstatus Siaga atau Level III setelah tiga kali erupsi pada Selasa (10/3/2926). Warga diminta mewaspadai potensi bahaya awan panas dan lontaran batu pijar.
Erupsi terjadi pukul 10.06 WIB, pukul 18.07 WIB, dan pukul 18.21 WIB. Saat erupsi terakhir, tinggi kolom abu kurang lebih 500 meter di atas puncak atau setara 4.176 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu teramati berwarna putih dengan intensitas sedang condong ke arah utara. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi sementara ini selama 1 menit 55 detik.
"Gunung Semeru berada pada Status Level III atau Siaga,” kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria, Rabu (11/3/2026) pagi.
Lana menuturkan, Badan Geologi telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi terkait erupsi Gunung Semeru yang telah berstatus Siaga. Hal ini untuk mengantisipasi potensi bahaya akibat erupsi.
Rekomendasi pertama, warga tidak boleh beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak atau pusat erupsi.
Kemudian, warga diminta tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak beraktivitas pada jarak 500 m dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak, " paparnya.
Lana meminta warga mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai dan. lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
"Warga waspada potensi awan panas terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan, " imbaunya.
Bupati Lumajang Indah Amperawati terus memantau perkembangan informasi erupsi dari Pos Pantau Gunung Api Semeru. Ia mengimbau warga tetap tenang.
"Jarak luncurnya masih pada radius aman. Harapannya tidak ada hujan deras sehingga memicu banjir lahar," ucap Indah dikutip dari Kompas.com
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho menambahkan, tidak ada dampak yang terjadi akibat luncuran awan panas. Akan tetapi, luncuran awan panas memicu tumpukan material di lereng Gunung Semeru semakin banyak.
"Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, material pasir dan batu akan terbawa oleh banjir lahar hujan Gunung Semeru. Hal bisa membahayakan warga di sekitar aliran sungai yang berhulu ke Gunung Semeru, " kata Isnugroho.





