REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Otoritas Israel dilaporkan memberlakukan sensor militer yang semakin ketat terhadap pemberitaan media mengenai dampak serangan rudal dari Iran. Pembatasan tersebut disebut mencakup larangan bagi media lokal maupun internasional untuk mendokumentasikan atau menyiarkan secara langsung kondisi kerusakan di sejumlah wilayah Palestina yang dijajah Israel.
Kantor berita France 24 mengungkapkan, pihak militer Israel memperketat pengawasan terhadap publikasi informasi selama konflik berlangsung dengan Iran. Perang antara sekutu Amerika Serikat (AS) tersebut dan Teheran mencuat sejak akhir Februari 2026.
Baca Juga
PN Jaksel Hari Ini Agendakan Pembacaan Putusan Praperadilan Eks Menag Yaqut
Atalanta Hancur Lebur di Kandang, Digilas Bayern Munchen 1-6 di Leg Pertama 16 Besar Liga Champions
KAUMY Jakarta Serukan Perdamaian, Ingatkan Dampak Perang AS-Iran bagi Ekonomi Global
Dalam laporannya, France 24 menyampaikan, sensor militer Israel (IDF) diterapkan di tengah meningkatnya serangan balasan (retaliation) dari Teheran serta kelompok bersenjata di kawasan Asia Barat, termasuk Hezbollah di Lebanon.
Menurut laporan itu, pihak IDF melarang penyiaran langsung situasi di kota-kota ketika sirene peringatan serangan udara berbunyi. Pembatasan tersebut juga mencakup larangan pengambilan gambar atau video di lokasi jatuhnya rudal.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
France 24 menyebutkan, dalam beberapa tahun terakhir Israel memang telah memiliki aturan sensor militer terkait pemberitaan keamanan dan keadaan darurat. Namun, pembatasan tersebut dilaporkan menjadi lebih ketat sejak meningkatnya serangan balasan Iran terhadap wilayah Israel.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)