Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut?
1. Bagaimana kronologi kejadian longsor di TPST Bantargebang?
2. Apa yang memicu bencana longsor di TPST Bantargebang?
3. Bagaimana proses pencarian korban longsor TPST Bantargebang dilakukan?
4. Mengapa longsor di TPST Bantargebang dinilai sebagai bentuk kegagalan sistemik tata kelola sampah di Jakarta?
5. Apa dampak dari longsor di TPST Bantargebang terhadap pengangkutan sampah Jakarta?
Gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, longsor pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Akibat kejadian ini, 7 orang ditemukan tewas. Mereka adalah Enda Widayanti (25), Sumine (60), Dedi Sutrisno (22), Irwan Suprihatin, Jussova Situmorang (38), Hardianto, dan Riki Supriadi (40).
Sumine diketahui sebagai pemilik salah satu warung di lokasi longsoran, sedangkan Enda adalah menantunya. Adapun Dedi, Irwan, Hardianto, dan Riki adalah sopir truk pengangkut sampah. Musibah longsor terjadi ketika truk-truk sedang mengantre giliran membongkar sampah.
Jaka (58) merupakan saksi mata utama yang melihat langsung kejadian longsor tersebut. ”Saya melihat longsoran itu meluncur dengan sangat cepat. Bahkan, Bu Sumine dan menantunya, Enda, tidak bisa menyelamatkan diri saking cepatnya longsoran tersebut,” kata Jaka mengingat insiden tersebut.
Adapun tiga korban lain merupakan pengemudi truk yang sedang menunggu antrean truk untuk membongkar sampah. ”Tiga korban waktu itu sedang ngopi di warung Bu Sumine,” ujar Jaka.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Asep Kuswanto menyebut, setidaknya ada tujuh truk terdampak longsor di TPST Bantargebang. Lima di antaranya telah dievakuasi, sedangkan dua truk masih dalam proses evakuasi.
Sebanyak 13 unit ekskavator dikerahkan untuk membuka timbunan material longsor. Dua ambulans juga berada di lokasi untuk evakuasi korban.
Bencana longsor yang terjadi di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, pada Minggu pukul 14.30 terjadi sangat tiba-tiba. Longsor tersebut menewaskan tujuh orang yang tertimbun di lokasi. Operasi pencarian ditutup pada Selasa (10/3/2026) setelah semua korban tewas ditemukan.
Gubernur Jakarta Pramono Anung menjelaskan, longsor yang menewaskan enam orang di TPST Bantargebang ini terjadi pada Minggu pukul 14.3. ”Ketika itu truk-truk sampah sedang mengantre giliran membongkar muatan. Tiba-tiba terjadi longsor. Gunungan sampah jatuh menimpa lima truk sampah dan satu warung di sekitar lokasi,” katanya.
Pramono menuturkan, longsor gunungan sampah terjadi di Zona 4 TPST Bantargebang. Saat itu, jalan operasional dan Sungai Ciketing sepanjang 40 meter tertutup sampah. Longsor tersebut salah satunya dipicu hujan lebat yang berlangsung dalam waktu lama.
”Sebagai langkah mitigasi, layanan di zona 4A ditutup sementara. Pengiriman sampah ke TPST Bantargebang diminimalkan dan operasionalnya dialihkan ke zona 3 serta disiapkan dua titik baru sambil dirapikan,” tutur Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3/2026).
Jaka (58), saksi mata di lokasi juga menyebutkan longsor di TPST Bantargebang terjadi setelah hujan deras mengguyur sejak Sabtu (7/3/2026) hingga Minggu (8/3/2026) pagi. ”(Minggu) siang baru terjadi longsor,” kata Jaka.
Karena Jaka melihat secara detail peristiwa tersebut, ia pun turut membantu petugas untuk menemukan jenazah korban. ”Kebanyakan dari korban jatuh di sungai kecil yang tak jauh dari gunungan sampah,” ujar Jaka.
Kepala Kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari menyampaikan, tim SAR gabungan yang diisi oleh 336 personel dari sejumlah instansi terkait melakukan segala upaya untuk menemukan para korban longsor di TPST Bantargebang. Dimulai dari membuka akses menggunakan alat berat serta mengerahkan anjing pelacak untuk mencari tanda-tanda adanya korban.
Pencarian juga dilakukan dengan menggunakan drone thermal untuk penyisiran melalui udara dengan mendeteksi panas tubuh. ”Dengan cara ini, jenazah para korban akhirnya dapat ditemukan,” ujar Desiana.
Berdasarkan data awal yang diperoleh dari keterangan saksi dan laporan kehilangan dari keluarga korban, ada 13 korban dalam tragedi ini. Dari 13 korban, tujuh orang di antaranya tewas dan 6 orang lain dalam kondisi selamat.
Korban terakhir yang ditemukan tewas, yakni Riki Supriadi (40), ditemukan pada Senin (9/3/2026) malam. Insiden tersebut menyisakan trauma bagi warga yang beraktivitas di TPST Bantargebang. ”Dengan ditemukannya korban Riki dan tidak ada lagi laporan korban hilang, operasi SAR ditutup,” ujar Desiana, Selasa (10/3/2026).
Walau operasi SAR telah ditutup, aparat kepolisian, terutama dari Polsek Bantargebang, masih berjaga jika sewaktu-waktu ada laporan kehilangan dari warga. Selain itu, sejumlah ekskavator juga terlihat masih merapikan longsoran sampah yang ditonton sejumlah warga yang penasaran.
Longsor gunungan sampah setinggi 50 meter di Zona 4 TPST Bantargebang pada Minggu (8/3/2026) pukul 14.30 WIB yang menelan tujuh korban tewas menjadi bukti nyata kegagalan sistemik pengelolaan sampah di Jakarta yang tidak boleh lagi ditoleransi.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa tragedi mematikan ini merupakan alarm keras bagi Pemerintah Provinsi Jakarta untuk segera menghentikan pengelolaan sampah dengan metode open dumping yang terus mengancam nyawa warga dan petugas.
Kini, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) telah memulai penyidikan menyeluruh serta penegakan hukum tegas guna memastikan persoalan sampah Ibu Kota yang berlarut-larut tidak kembali memakan korban jiwa.
Hanif menegaskan, tragedi ini merupakan fenomena gunung es kegagalan tata kelola sampah Jakarta yang kini menampung beban kritis sekitar 80 juta ton sampah selama 37 tahun. Penggunaan metode open dumping di lokasi ini dinilai melanggar Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 karena sistem yang ada tidak lagi mampu mereduksi risiko keselamatan bagi warga.
Kondisi yang tidak sesuai dengan ketentuan tersebut tak hanya mengancam keselamatan jiwa akibat potensi longsor susulan, tetapi juga menjadi sumber pencemaran lingkungan yang masif.
”Kejadian ini seharusnya tidak perlu terjadi jika pengelolaan dilakukan sesuai aturan. TPST Bantargebang harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk segera berbenah demi keselamatan jiwa manusia dan kelestarian lingkungan,” kata Hanif.
Musibah longsor di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu (8/3/2026) turut memengaruhi pengangkutan sampah ke lokasi tersebut. Dinas Lingkungan Hidup Jakarta membatasi sementara pengangkutan sampah persis seusai longsor terjadi. Pembatasan dibarengi perbaikan dan penataan zona pembuangan sampah untuk mencegah musibah serupa terulang.
”Pengangkutan dibatasi sementara menjadi 600 rit dan sesuai sifnya,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Asep Kuswanto, Selasa (10/3/2026).
Dalam kondisi normal, pengangkutan sampah ke TPST Bantargebang mencapai sekitar 1.200 rit. Pembatasan dilakukan pada periode 9-11 Maret 2026. Informasi Lingkungan dan Kebersihan realtime Dinas Lingkungan Hidup Jakarta menunjukkan 1.841 ton sampah dan 312 truk masuk TPST Bantargebang per Selasa siang.
Asep menyebut, sampah juga akan diolah di tempat pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau RDF Bantargebang dan RDF Rorotan. Masing-masing dengan kapasitas 800 ton dan 300 ton.
”Khusus RDF Rorotan akan ditingkatkan pada pekan ini hingga 750 ton. Sampah lainnya diolah di PLTSa dengan kapasitas 100 ton,” kata Asep.
Dari upaya tersebut, lanjut Asep, total sampah yang dapat tertangani hingga akhir pekan adalah 6.700 ton sampai 7.150 ton. Adapun rata-rata sampah harian di Jakarta adalah 7.400 ton sampai 8.000 ton.
Dinas lingkungan hidup juga berkoordinasi dengan pihak swasta di TPST Bantargebang. Ini sebagai opsi terakhir tempat pembuangan sampah. ”Dengan kondisi tersebut, diharapkan pengelolaan sampah di TPST Bantargebang dapat normal kembali dalam satu pekan ini,” ujar Asep.





