Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas memangkas penguatannya setelah dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat sebagian, di tengah volatilitas harga minyak yang dipicu kabar simpang siur terkait konflik di Timur Tengah serta memengaruhi prospek pemangkasan suku bunga bank sentral AS.
Harga minyak dan dolar sempat mengurangi pelemahan setelah Gedung Putih menyatakan bahwa AS tidak mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman energi global. Pernyataan tersebut membantah unggahan media sosial Menteri Energi AS Chris Wright yang kemudian dihapus.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah terus mengganggu produksi dan pengolahan minyak mentah di kawasan tersebut. Pentagon menyatakan AS dan Israel melancarkan hari serangan paling intens sejauh ini terhadap Iran dan tidak akan menghentikannya hingga Republik Islam itu dikalahkan.
Head of Global Commodity Strategy TD Securities Bart Melek mengatakan harga minyak yang masih tinggi meskipun telah menurun berpotensi menjaga inflasi tetap meningkat, tetapi tidak sampai menghalangi bank sentral AS untuk memangkas suku bunga tahun ini.
“Penurunan harga minyak yang masih berada di level tinggi berarti inflasi akan meningkat, tetapi tidak cukup tinggi untuk menghalangi The Fed memangkas suku bunga tahun ini,” ujar Melek dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut positif bagi emas karena logam mulia itu tidak memberikan imbal hasil bunga.
Baca Juga
- Harga Emas Dunia Hari Ini (11/3) Bergerak Terbatas di Tengah Ketidakpastian Konflik Timur Tengah
- Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini, Rabu 11 Maret 2026, Naik Lagi?
- Harga Emas Menguat Usai Trump Isyaratkan Perang Timur Tengah Segera Berakhir
Sebelumnya, sebelum Presiden AS Donald Trump menyatakan perang dengan Iran dapat berakhir dalam waktu dekat, investor memperkirakan bank sentral AS dan bank sentral global lainnya harus mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya untuk meredam inflasi akibat lonjakan harga energi. Skenario tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi emas.
Meski perdagangan berlangsung volatil dan momentum kenaikan sempat tertahan, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar seperlima sepanjang tahun ini. Ketegangan geopolitik serta gejolak perdagangan global turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Namun sejak konflik pecah, kepemilikan emas pada exchange-traded fund (ETF) justru mengalami penurunan. Berdasarkan data Bloomberg, total kepemilikan ETF emas turun hampir 30 ton pada pekan lalu, menandai aksi jual mingguan terbesar dalam lebih dari dua tahun.
Adapun harga emas spot naik 1,1% menjadi US$5.194,54 per ons pada pukul 16.50 waktu New York. Sementara itu, harga perak naik 1,7% menjadi US$88,51, platinum menguat, dan palladium melemah. Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat turun 0,1%.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual emas. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460862/original/087264900_1767325360-001735400_1765425683-2.jpg)

