New York: Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), sejalan dengan tergelincirnya harga minyak dunia.
Mengutip Xinhua, Rabu, 11 Maret 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,36 persen menjadi 98,823.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro naik menjadi USD1,1644 dari USD1,1578 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris menguat menjadi USD1,346 dari USD1,3388 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada 157,63 yen Jepang, lebih rendah dari 158,33 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS melemah menjadi 0,777 franc Swiss dari 0,7799 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga turun menjadi 1,357 dolar Kanada dari 1,3591 dolar Kanada. Dolar AS merosot menjadi 9,1371 krona Swedia dari 9,21 krona Swedia.
Baca juga: Dolar AS Masih Perkasa Lawan 6 Mata Uang Utama Dunia
(Dolar AS. Foto: Freepik)
Pasar cerna volatilitas pasar energi
Pergerakan dolar AS disebut terjadi karena investor mencerna serangan AS-Israel terhadap Iran dan menghadapi volatilitas di pasar energi.
Adapun, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan AS, mengalami fluktuasi tajam intraday sebelum akhirnya stabil dengan penurunan lebih dari 11 persen menjadi USD83,45 per barel.
Sebelumnya, WTI anjlok di bawah USD77 setelah unggahan Menteri Energi AS Chris Wright yang mengklaim Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.
Unggahan tersebut segera dihapus, dan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengklarifikasi tidak ada pengawalan angkatan laut seperti itu yang terjadi.
Para pelaku pasar juga menyatakan kekhawatiran yang semakin meningkat atas potensi konsekuensi dari harga minyak yang tinggi. John Belton, seorang manajer portofolio di Gabelli Growth Fund, menyoroti risiko kenaikan harga minyak yang berkelanjutan yang dapat berdampak pada ekspektasi inflasi yang lebih luas.
"Yang benar-benar saya fokuskan dalam jangka panjang adalah, sejauh mana harga minyak tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, apakah itu mulai memengaruhi ekspektasi inflasi, dan apakah itu menggagalkan narasi disinflasi yang telah berlangsung selama 12 hingga 18 bulan terakhir," kata Belton.




