Penulis: Fityan
TVRINews – Dubai
Militer Amerika Serikat meningkatkan serangan udara sementara Teheran mengancam akan memblokir jalur ekspor minyak global.
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah militer Amerika Serikat mengonfirmasi penghancuran 16 kapal peletak ranjau milik Iran pada Selasa 10 Maret 2026 waktu setempat. Langkah ini diambil di tengah ancaman Republik Islam Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi rute bagi 20% pasokan minyak dunia.
Meskipun militer AS telah merilis rekaman deklasifikasi terkait operasi tersebut, Presiden Donald Trump melalui unggahan di media sosial menyatakan bahwa sejauh ini belum ada laporan mengenai ranjau yang sempat ditanam oleh pihak Iran di wilayah perairan tersebut.
Memasuki hari ke-11 konfrontasi, kedua belah pihak menunjukkan retorika yang kian tajam. Berdasarkan laporan The Associated Press.
Presiden Trump memperingatkan akan menyerang Iran pada "level yang belum pernah terlihat sebelumnya" jika Teheran terbukti melakukan provokasi di jalur pelayaran internasional.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menjanjikan serangan yang lebih intensif sementara Pentagon mulai merinci jumlah personel pasukan AS yang terluka dalam rangkaian kontak senjata ini.
Baca Juga: Rusia Desak Resolusi PBB Hentikan Perang Iran
Di sisi lain, pemimpin Iran secara tegas menutup pintu dialog dan meluncurkan serangan baru yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk Arab. Di Teheran, warga melaporkan terjadinya serangan udara paling masif sejak perang dimulai.
"Saya melihat sebuah bangunan tempat tinggal terkena serangan langsung," ujar seorang warga Teheran kepada The Associated Press, yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Akibat situasi tersebut, puluhan ribu warga sipil dilaporkan telah mengungsi meninggalkan ibu kota menuju wilayah pedesaan untuk mencari perlindungan.
Dampak Kemanusiaan di Lebanon
Konflik ini terus meluas dan menimbulkan korban jiwa di luar perbatasan Iran. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas dalam serangkaian serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Rabu pagi.
Salah satu korban jiwa merupakan anggota Palang Merah yang menghembuskan napas terakhir setelah timnya menjadi target serangan saat tengah melakukan evakuasi korban.
Selain itu, serangan pada hari Selasa juga menewaskan seorang paramedis dari Otoritas Kesehatan Islam yang berafiliasi dengan Hizbullah saat sedang merawat warga yang terluka.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau dampak ekonomi global akibat ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi bagi pasar energi dunia.
Editor: Redaktur TVRINews





