Rupiah Menguat Tipis, Gejolak di Selat Hormuz Masih Picu Ketidakpastian

katadata.co.id
17 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,05% menjadi Rp 16.854 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg pada Rabu pagi (11/3). Analis memperkirakan mata uang Garuda bergerak konsolidasi hari ini (11/3), dengan kecenderungan menguat.

“Rupiah diperkirakan bergerak konsolidasi dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan yang cukup besar pada harga minyak. Range Rp 16.800 – Rp 16.950 per dolar AS,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Rabu (11/3).

Meski harga minyak dunia mulai menurun, Lukman menilai konflik yang terjadi di Timur Tengah masih terus membebani rupiah. “Perang AS-Israel-Iran yang masih intense masih akan terus membebani rupiah,” katanya.

Iran Mulai Pasang Ranjau di Selat Hormuz

Ketika harga minyak dunia mulai turun, Iran disebut telah mulai memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur penting di dunia yang mengangkut sekitar seperlima dari seluruh minyak mentah, menurut dua orang yang mengetahui laporan intelijen AS tentang masalah ini.

“Pemasangan ranjau belum meluas, hanya beberapa lusin yang telah dilakukan dalam beberapa hari terakhir,” kata sumber dikutip dari CNN Internasional, Rabu (11/3).

Ranjau yang dimaksud yakni ranjau laut, bom yang dipasang di laut untuk merusak atau menenggelamkan kapal.

Namun Iran masih mempertahankan lebih dari 80% hingga 90% kapal kecil dan kapal pemasang ranjau, kata salah satu sumber, sehingga pasukannya secara realistis dapat memasang ratusan ranjau di jalur air tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang kini secara efektif mengendalikan Selat Hormuz bersama dengan angkatan laut tradisional Iran, memiliki kemampuan untuk mengerahkan serangkaian kapal penebar ranjau, kapal bermuatan bahan peledak, dan baterai rudal berbasis pantai yang tersebar, demikian dilaporkan CNN.

Presiden Donald Trump pun mengancam Iran terkait ranjau dalam unggahan di Truth Social pada Selasa (10/3). “Jika Iran memasang ranjau di Selat Hormuz, dan kami tidak memiliki laporan tentang hal itu, kami ingin ranjau tersebut disingkirkan, SEGERA!”

Ia menambahkan bahwa jika ranjau telah dipasang dan tidak disingkirkan, Iran akan menghadapi konsekuensi ‘pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya." Namun, ia mengatakan bahwa jika Teheran menyingkirkan "apa pun yang mungkin telah dipasang, itu akan menjadi langkah besar ke arah yang benar!"

Setelah unggahan Trump, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengunggah di X bahwa atas arahan Presiden, Komando Pusat AS telah melenyapkan kapal-kapal penebar ranjau yang tidak aktif di Selat Hormuz. “Kami menghancurkannya dengan presisi tanpa ampun. Kami tidak akan membiarkan teroris menyandera Selat Hormuz,” kata dia.

Komando Pusat AS mengatakan dalam unggahan di media sosial pada Selasa malam (10/3), bahwa militer telah menghancurkan beberapa kapal angkatan laut Iran, termasuk 16 kapal penyebar ranjau, di dekat Selat Hormuz.

IRGC sebelumnya memperingatkan bahwa kapal apa pun yang melewati selat tersebut akan diserang, dan jalur tersebut secara efektif telah ditutup sejak awal perang. Kondisi selat tersebut digambarkan kepada CNN sebagai "lembah kematian" mengingat risiko yang terlibat dalam melintasinya.

Para pejabat AS mengatakan pada Selasa (10/3) bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal apa pun melalui selat tersebut, meskipun Trump mengatakan pada hari Senin bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan opsi untuk melakukannya.

Trump juga mengatakan dalam konferensi pers pada Senin (9/3) bahwa Selat Hormuz akan tetap aman. “Kami memiliki banyak kapal Angkatan Laut di sana. Kami memiliki peralatan terbaik di dunia yang memeriksa keberadaan ranjau.”

CNN melaporkan bahwa hampir 15 juta barel per hari (bpd) produksi minyak mentah, ditambah 4,5 juta bpd bahan bakar olahan, kini secara efektif terperangkap di Teluk, dan produsen seperti Irak dan Kuwait tidak memiliki alternatif selain mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz.

Kelompok G7 yang terdiri dari negara-negara ekonomi besar telah mengisyaratkan bahwa mereka dapat melepaskan lebih banyak minyak untuk mencoba mengimbangi kekurangan tersebut.

Ketidakpastian seputar kemampuan untuk mengangkut minyak melalui jalur air tersebut tampaknya menyebabkan volatilitas yang parah di pasar minyak mentah pada Selasa (10/3), dengan harga per barel berfluktuasi antara lebih dari US$ 90 dan kurang dari US$ 80 dalam serangkaian puncak dan lembah.

Jika informasi Iran memasang ranjau di Selat Hormuz itu benar dan berdampak pada kapal-kapal yang melewatinya, hal ini bisa membuat harga minyak dunia kembali melonjak dan membebani rupiah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sebanyak 26.692 Personel Gabungan Disiagakan Amankan Arus Mudik Jabar
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Fit and Proper Test Dewan Komisioner OJK Digelar Hari Ini, Simak Jadwal Lengkapnya
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Anggota Kopdes di Pasuruan Berhasil Tumbuh Pesat Berkat Terobosan Kolaborasi Ini
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Pastikan Keamanan Pangan, Petugas Ambil Sampel Daging di Pasar Blambangan Banyuwangi
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dubes Iran di PBB Tuding AS dan Israel Sengaja Sasar Sipil, 1.300 Tewas
• 22 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.