Pantau - Iran menyatakan tidak akan membiarkan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya mengekspor minyak dari kawasan Timur Tengah selama konflik yang melibatkan Iran masih berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Ali Mohammad Naini di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
Ali Mohammad Naini mengatakan, "Di tengah agresi yang terus berlangsung dari Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran serta infrastruktur sipil kami, angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan setetes pun minyak diekspor dari kawasan ini kepada pihak yang bermusuhan dan mitra mereka hingga pemberitahuan lebih lanjut".
Ia menegaskan sikap tersebut akan tetap berlaku selama operasi militer terhadap Iran masih berlangsung.
Iran Klaim Kendalikan Arah KonflikNaini menambahkan bahwa upaya pihak lawan untuk menekan dan mengendalikan harga minyak serta gas hanya akan bersifat sementara.
Ia menilai upaya tersebut tidak akan berhasil dalam jangka panjang.
Menurutnya, Iran saat ini memegang kendali atas perkembangan konflik yang sedang berlangsung.
Ia juga menegaskan bahwa Iran yang akan menentukan kapan konflik tersebut akan berakhir.
Naini menepis pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat yang menyebut kemampuan Iran meluncurkan rudal telah melemah.
Ia menyatakan bahwa Iran justru akan meningkatkan kekuatan serangan rudalnya.
Iran disebut akan meluncurkan rudal yang lebih kuat dengan hulu ledak berbobot sedikitnya satu ton.
Konflik Memanas Usai Serangan AS dan IsraelPernyataan tegas tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari.
Serangan tersebut mencakup sejumlah lokasi di ibu kota Iran, Teheran.
Serangan dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas serta menimbulkan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel.
Iran juga menyerang fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Pada awalnya Washington dan Tel Aviv menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, Amerika Serikat dan Israel juga menyampaikan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan syahid pada hari pertama operasi militer tersebut.
Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Rusia Desak Deeskalasi KonflikPerkembangan konflik tersebut memicu reaksi dari sejumlah negara, termasuk Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia turut mengutuk operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Moskow juga mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi dan menghentikan aksi permusuhan.



