Nostradramus Kekalahan AS

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di zaman ketika orang lebih percaya ramalan zodiak daripada laporan intelijen, tiba-tiba muncul seorang profesor yang membuat dunia geopolitik terasa seperti papan catur raksasa. Namanya Prof Jiang Xueqin, pendidik, penulis, dan YouTuber berkewarganegaraan Kanada.

Baca Juga
  • Panduan Tipis Menggedor Tirani
  • Perang di Mata Hewan

Sosok kelahiran Guangdong, China (1976) ini bukan pembaca masa depan lewat kopi hitam tanpa gula, melainkan seorang akademisi yang mengaku menggunakan game theory untuk membaca arah sejarah. Ramalannya tentang naiknya Trump jadi Presiden dan perang AS dengan Iran sudah terbukti, membuatnya dijuluki nostradramus.

Kini dunia menatap ramalan ketiga lulusan Yale College pada 1999 dengan gelar sastra Inggris itu dengan ekspresi campuran antara penasaran, cemas, dan sedikit rasa ingin tahu yang nakal: benarkah Amerika Serikat, imperium terbesar abad ini akan kalah perang melawan negara yang selama ini dianggap “sanksi ekonomi berjalan”?

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Jiang Xueqin lama berkutat di dunia pendidikan elite di China. Ia pernah menjadi Deputy Principal di Shenzhen Middle School, Program Director di Peking University High School International Division, serta Deputy Principal di sekolah afiliasi Tsinghua University.

Sejak mengajar di Moonshot Academy di Beijing (2022), ia dikenal luas melalui kanal YouTube “Predictive History”, tempat ia menggabungkan analisis sejarah, game theory, dan pola struktural untuk membaca arah geopolitik dunia. Salah satu kuliahnya pada 2024 menjadi viral karena memprediksi Amerika akan kalah dalam perang dengan Iran.

Metode ramalan Jiang terdengar sederhana namun agak menakutkan bagi para pemuja slogan. Ia membaca konflik sebagai permainan strategi jangka panjang, bukan sebagai drama televisi yang bergantung pada pidato presiden atau trending topic media sosial.

Dalam analisanya, perang Amerika melawan Iran bukan duel teknologi canggih versus negara berkembang. Ia melihatnya sebagai perang kelelahan — war of attrition — di mana keunggulan bukan ditentukan oleh siapa punya senjata paling mahal, tapi siapa yang mampu bertahan paling lama.

Ironinya, di sinilah paradoks modern muncul. Sistem militer Amerika dirancang untuk memenangkan perang teknologi tinggi dengan biaya luar biasa. Satu peluru interceptor bisa bernilai puluhan juta dolar, sementara drone lawan hanya puluhan ribu. Itu seperti mencoba memukul nyamuk dengan martil emas. Nyamuknya mungkin mati, tetapi dompet yang lebih dulu pingsan.

Dalam analisis Jiang, Iran justru bermain di level strategi yang berbeda. Kalkulasi mereka tak berhenti di aspek militer, tapi menyeluruh. Mereka tidak sekadar menghadapi militer Amerika, tetapi menekan sistem ekonomi global yang menopang kekuatan Amerika, terutama modal yang berasal dari negeri-negeri Muslim.

Jika infrastruktur energi Teluk terganggu, jika jalur minyak terhambat, jika investasi petro-dollar melemah, maka bukan hanya peluru yang habis, tapi juga fondasi ekonomi yang mulai retak. Dari sinilah ia berani mengatakan sesuatu yang hampir terdengar seperti bid’ah geopolitik: kekalahan Amerika bukan hanya militer, tetapi sistemik.

Namun, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah ramalan itu akan benar, dan yang tanda-tandanya sudah dibaca itu akan benar. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana seorang profesor berani membuat ramalan sejarah seperti itu.

Di sinilah bayang-bayang Ibnu Khaldun muncul dari abad ke-14, seolah tersenyum dari balik halaman Muqaddimah. Sang sejarawan besar itu sejak lama menjelaskan bahwa kekuasaan tidak jatuh karena satu pertempuran, tapi karena hukum sosial yang berulang.

Ibnu Khaldun mencatat, setiap imperium lahir dari solidaritas kuat — yang ia sebut ‘asabiyyah — lalu menjadi makmur, kemudian nyaman, lalu malas, lalu rapuh. Ia bahkan menjelaskan lebih rinci penyebab keruntuhan itu.

Menurutnya, ketika sebuah dinasti sudah lama berkuasa, generasi penerus tidak lagi hidup dalam kesederhanaan para pendirinya. Mereka tumbuh di dalam istana, terbiasa dengan kemewahan, dan perlahan kehilangan daya tahan moral yang dahulu melahirkan kekuasaan itu.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WNI di Teluk Diminta Tak Rekam dan Sebarkan Konten Insiden Proyektil
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
[FULL] Keras! Menkeu Purbaya Ingatkan Pejabat Kemenkeu: Tak Mau Pegawai Digerebek KPK-Kejaksaan
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Mayat Bayi Laki-laki Baru Lahir Ditemukan Mengapung di Dam Sungai A. Yani Sumobito, Jombang
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Dominasi Persib di Timnas Indonesia: Bojan Hodak Dorong Teja Paku Alam Dipanggil John Herdman
• 7 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Mahasiswa RI Cerita Proses Belajar di Iran Terputus Imbas Perang
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.