Harga Aluminium Tetap Tinggi, Pasokan Timur Tengah Jadi Sorotan

idxchannel.com
7 jam lalu
Cover Berita

Harga aluminium bangkit pada Rabu (11/3), seiring perhatian pasar kembali tertuju pada potensi hilangnya pasokan global di tengah konflik di Timur Tengah.

Harga Aluminium Tetap Tinggi, Pasokan Timur Tengah Jadi Sorotan. (Foto: Shutterstock)

IDXChannel - Harga aluminium bangkit kembali pada Rabu (11/3/2026), seiring perhatian pasar kembali tertuju pada potensi hilangnya pasokan global di tengah konflik di Timur Tengah.

Sebelumnya sempat terjadi aksi jual singkat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai perang Iran.

Baca Juga:
Indonesia Butuh Investasi Rp3.000 Triliun untuk Transisi Energi

Kontrak aluminium yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange naik 2,31 persen menjadi 25.275 yuan (USD3.680,81) per ton pada pukul 09.13 WIB.

Kontrak tersebut sebelumnya turun 1,41 persen pada Selasa setelah komentar Trump yang menyiratkan perang Iran segera berakhir sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan.

Baca Juga:
Elnusa (ELSA) Realisasikan Capex Rp566 Miliar, Sentuh 95 Persen dari Target

Sementara itu, kontrak aluminium acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menguat 0,5 persen ke USD3.423 per ton. Harga sempat menyentuh level tertinggi hampir empat tahun di USD3.544 pada Senin.

Mengutip Reuters, perang di Timur Tengah, wilayah yang menyumbang sekitar 9 persen pasokan aluminium global, mengguncang pasar aluminium dunia karena secara efektif membekukan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Baca Juga:
Saham Migas Menguat, RAJA-RATU Pimpin Kenaikan

Akibatnya, smelter Qatar, Qatalum, mulai menghentikan produksi, sementara Aluminium Bahrain, yang mengoperasikan salah satu smelter terbesar di dunia, menyatakan force majeure atas pengiriman.

Analis utama di broker SDIC Futures Jing Xiao mengatakan, struktur backwardation mencerminkan ketatnya pasokan dalam jangka pendek.

Backwardation merupakan kondisi pasar ketika harga untuk pengiriman segera lebih tinggi dibandingkan kontrak pengiriman di masa mendatang.

“Begitu produksi dihentikan, dibutuhkan setidaknya setengah tahun untuk memulai kembali operasi, yang menunjukkan pasokan dari Timur Tengah akan absen dalam waktu cukup lama,” ujar Xiao dari SDIC.

Selain itu, investor juga menunggu serangkaian data ekonomi AS pekan ini, termasuk indeks harga konsumen, untuk menilai prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Di antara logam lain di Shanghai Futures Exchange, tembaga naik 0,36 persen, nikel turun 0,95 persen, timbal melemah 0,27 persen, timah turun 0,7 persen, sementara seng relatif tidak berubah.

Sementara di LME, tembaga turun 0,2 persen, nikel melemah 0,22 persen, timbal turun tipis 0,1 persen, timah merosot 1,01 persen, sedangkan seng bergerak stabil. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Tengah Perang: AS Umumkan Kabar Genting, Purbaya Buka Suara Hari In
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Anak Senior Golkar Akbar Tandjung, Karmia Krissanty Meninggal Dunia
• 54 menit lalukompas.com
thumb
Kampanyekan Gaya Hidup Sehat, PAM JAYA Gandeng Pelita Jaya Bagi-Bagi Tumbler
• 6 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Sapa dan Bantu Korban Tanah Bergerak di Tegal, Rustini Muhaimin Dorong Tempat Huntara
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
[FULL] Nasib Pekerja Migran di Tengah Perang AS-Israel vs Iran, Bagaimana Kondisinya? | KOMPAS SIANG
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.