Mengapa Relasi Sehat Guru dan Orangtua Penting bagi Kenyamanan dan Karakter Siswa?

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Hubungan yang sehat antara guru dan orangtua menjadi fondasi penting bagi terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman dan mendukung perkembangan karakter siswa. Konsep trisentra pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga pada keharmonisan relasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hubungan tersebut kerap mengalami ketegangan. Sejumlah kasus kriminalisasi guru oleh orangtua siswa menunjukkan adanya persoalan komunikasi dan perbedaan persepsi dalam proses mendidik anak. Situasi ini memunculkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat kemitraan antara guru dan orangtua agar pendidikan dapat berlangsung secara humanis, aman, dan berpihak pada kepentingan terbaik bagi siswa.

Apa yang dapat dipelajari dari artikel ini?

1. Mengapa relasi antara guru dan orangtua penting dalam pendidikan anak?

2. Mengapa hubungan guru dan orangtua dalam beberapa tahun terakhir kerap mengalami ketegangan?

3. Apa dampak buruk jika hubungan antara guru dan orangtua tidak harmonis?

4. Apa saja upaya yang dilakukan untuk memperkuat relasi antara sekolah dan orangtua?

5. Mengapa perlindungan yang seimbang bagi siswa dan guru menjadi penting dalam dunia pendidikan?

6. Bagaimana beberapa negara merespons fenomena kriminalisasi guru?

Mengapa relasi antara guru dan orangtua penting dalam pendidikan anak?

Konsep trisentra pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara menempatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai tiga pilar utama dalam pendidikan anak. Dalam kerangka ini, keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada proses belajar di sekolah, tetapi juga pada keterlibatan keluarga.

Relasi yang harmonis antara guru dan orangtua memungkinkan proses pendidikan berjalan selaras antara rumah dan sekolah. Orangtua dapat memahami perkembangan anak di sekolah, sementara guru dapat memperoleh dukungan dalam membimbing siswa.

Penelitian Universitas Plymouth dan Universitas Exeter di Inggris pada 2019 menunjukkan bahwa keterlibatan orangtua memiliki pengaruh positif terhadap prestasi akademik anak. Pengaruh tersebut berlaku tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial ekonomi siswa.

Karena itu, komunikasi yang baik antara sekolah dan orangtua menjadi kunci penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi perkembangan akademik maupun karakter siswa.

Baca JugaPerkuat Relasi Guru-Orangtua demi Sekolah Aman dan Sehat bagi Siswa
Mengapa hubungan guru dan orangtua dalam beberapa tahun terakhir kerap mengalami ketegangan?

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara guru dan orangtua kerap mengalami ketegangan. Salah satu pemicunya adalah munculnya sejumlah kasus kriminalisasi guru oleh orangtua siswa.

Kasus tersebut umumnya terjadi ketika guru berusaha menegakkan disiplin di sekolah. Tindakan pendisiplinan yang dimaksudkan sebagai bagian dari proses pendidikan kadang dipersepsikan sebagai bentuk kekerasan.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai rapuhnya relasi antara guru dan orangtua mencerminkan adanya persoalan komunikasi dalam lingkungan pendidikan.

Selain itu, perubahan nilai dalam masyarakat juga memengaruhi cara pandang terhadap pendidikan. Kesadaran terhadap perlindungan anak, perkembangan teknologi, serta berkurangnya kepercayaan sebagian orangtua terhadap lembaga pendidikan membuat batas antara mendidik dan mendisiplinkan siswa semakin kabur.

Baca JugaRelasi Guru dan Orangtua yang Kian Renggang dalam Membersamai Pendidikan Anak
Apa dampak buruk jika hubungan antara guru dan orangtua tidak harmonis?

Ketika hubungan antara guru dan orangtua memburuk, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua pihak tersebut, tetapi juga oleh siswa. Ketegangan relasi dapat menciptakan lingkungan belajar yang tidak nyaman.

Dalam situasi seperti itu, guru cenderung lebih berhati-hati bahkan menghindari tindakan disiplin terhadap siswa karena khawatir dipersoalkan secara hukum.

Akibatnya, proses pendidikan karakter yang memerlukan ketegasan dan konsistensi dapat berkurang. Pendidikan kemudian berisiko hanya berfokus pada penyampaian materi akademik.

Tekanan sosial terhadap guru juga dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka. Dalam beberapa kasus di berbagai negara, tekanan tersebut bahkan menimbulkan trauma dan memengaruhi kinerja guru.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak ekosistem pendidikan. Jika guru kehilangan rasa aman dalam menjalankan tugasnya, proses pembinaan karakter dan kedisiplinan siswa menjadi terhambat, sementara kepercayaan antara sekolah dan orangtua semakin melemah.

Baca JugaSinergi Guru dan Ortu Melindungi Anak dari Kekerasan
Apa saja upaya yang dilakukan untuk memperkuat relasi antara sekolah dan orangtua?

Pemerintah berupaya memperkuat hubungan antara sekolah dan orangtua melalui berbagai kebijakan pendidikan. Salah satunya melalui penerbitan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Kebijakan tersebut menekankan pendekatan humanis, partisipatif, dan komprehensif dalam pengelolaan sekolah. Tujuannya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta mendukung kesehatan mental siswa.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peran guru wali yang bertugas mendampingi siswa secara intensif dan berkelanjutan. Guru wali diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara siswa, orangtua, dan sekolah.

Sekolah juga didorong memperkuat komunikasi dengan orangtua melalui berbagai saluran informasi serta melibatkan mereka dalam proses pendidikan anak.

Upaya tersebut diharapkan dapat membangun kepercayaan antara sekolah dan keluarga. Dengan komunikasi yang terbuka dan kerja sama yang kuat, berbagai persoalan yang muncul dalam proses pendidikan dapat diselesaikan secara dialogis tanpa harus berujung pada konflik.

Baca JugaMenyelaraskan Relasi Guru dan Orangtua untuk Ciptakan Sekolah sebagai Rumah Kedua Anak
Mengapa perlindungan yang seimbang bagi siswa dan guru menjadi penting?

Dalam dunia pendidikan, siswa berhak mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari kekerasan. Perlindungan terhadap anak menjadi prinsip penting dalam kebijakan pendidikan.

Namun, perlindungan tersebut tidak boleh mengabaikan hak guru sebagai pendidik. Guru juga berhak mendapatkan jaminan keamanan dan perlindungan hukum saat menjalankan tugasnya.

Ubaid Matraji menilai dunia pendidikan memerlukan sistem perlindungan ganda. Siswa harus terlindungi dari kekerasan, sementara guru harus dilindungi dari intimidasi dan kriminalisasi.

Keseimbangan tersebut penting agar sekolah dapat menjadi ruang yang aman bagi semua pihak, baik siswa maupun guru.

Selain itu, mekanisme penyelesaian masalah di lingkungan sekolah juga perlu diperkuat agar konflik tidak langsung berujung pada proses hukum. Dialog antara sekolah, guru, dan orangtua menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berjalan sehat dan bermartabat.

Baca JugaHukuman Fisik yang Mengoyak Relasi Guru, Siswa, dan Orangtua
Bagaimana beberapa negara merespons fenomena kriminalisasi guru?

Fenomena kriminalisasi guru tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara juga menghadapi persoalan serupa ketika upaya pendisiplinan siswa dipersepsikan sebagai pelanggaran terhadap perlindungan anak.

Di Korea Selatan, gelombang kasus kriminalisasi guru pada 2023 memicu protes besar dari para guru. Pemerintah kemudian mengesahkan Teacher Rights Restoration Bills yang menegaskan bahwa tindakan disiplin yang wajar dalam konteks pendidikan tidak dapat dikategorikan sebagai kekerasan terhadap anak.

Selain itu, ketika terjadi laporan dari orangtua siswa, aparat penegak hukum harus terlebih dahulu memeriksa bukti secara menyeluruh sebelum memproses kasus tersebut.

China juga memiliki aturan yang secara khusus memberikan hak kepada guru untuk menerapkan tindakan disiplin tertentu terhadap siswa. Aturan ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum bagi guru sekaligus menjaga ketertiban dalam proses pendidikan.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara perlindungan anak dan perlindungan terhadap profesi guru agar pendidikan dapat berjalan secara sehat dan bermartabat.

Baca JugaMenilik Solusi Global terhadap Fenomena Kriminalisasi Guru

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
FIFA Ungkap Piala Dunia Tidak Akan Ditunda di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
SETARA Institute Catat 221 Pelanggaran Kebebasan Beragama di Indonesia Sepanjang 2025
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Mobil Carry Angkut Pemudik Terbakar di Buton Tengah, Diduga Korsleting
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
Cerita Mencekam WNI dari Iran: Bom Lewat di Atas KBRI, Kaca Bergetar Hebat
• 14 jam laludetik.com
thumb
Musim kedua One Piece tayang di Netflix, musim tiga proses diproduksi
• 23 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.