KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah drone menghantam fasilitas milik Amerika Serikat di Baghdad, Selasa (10/3). Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik yang melibatkan kelompok milisi Irak yang didukung Iran, menandai babak baru dalam eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Dilansir dari laman Dailymail, serangan tersebut menghantam Pusat Dukungan Diplomatik Baghdad, sebuah fasilitas logistik dan operasional utama yang digunakan oleh diplomat Amerika Serikat. Lokasi ini dianggap strategis karena berada dekat dengan pangkalan militer Irak serta Bandara Internasional Baghdad.
Menurut pejabat keamanan yang dikutip media internasional, setidaknya enam drone diluncurkan menuju fasilitas tersebut. Sistem pertahanan berhasil mencegat lima drone, namun satu drone lainnya berhasil mendekati area menara pengawas sebelum akhirnya menghantam di sekitar lokasi tersebut.
Baca juga : Tiongkok-Rusia Sebut Amerika Kacaukan Timur Tengah
Meski serangan sempat memicu kepanikan, tidak ada laporan korban jiwa. Personel di dalam kompleks dilaporkan segera diperintahkan untuk berlindung guna menghindari dampak serangan.
Serangan ini diyakini dilancarkan oleh kelompok milisi Irak yang mendapat dukungan dari Iran. Kelompok tersebut beroperasi di bawah payung organisasi yang dikenal sebagai Perlawanan Islam di Irak, sebuah jaringan milisi yang beberapa kali menargetkan kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
Langkah ini menunjukkan keterlibatan langsung kelompok pro-Iran dalam dinamika konflik regional yang semakin kompleks.
Baca juga : Hubungan Memanas, Keir Starmer dan Donald Trump Bicara Telepon untuk Pertama Kali
Di saat yang hampir bersamaan, pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di pangkalan militer di Abu Dhabi dan Bahrain juga dilaporkan menjadi sasaran serangan terbaru yang diduga dilancarkan Iran.
Kantor berita Iran melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran menembakkan rudal ke arah pangkalan udara Al-Dhafra di dekat Abu Dhabi serta fasilitas militer di Juffair, Bahrain. Situasi ini membuat sistem peringatan dini aktif di beberapa kota kawasan Timur Tengah, termasuk Dubai dan Tel Aviv, di mana sirene darurat sempat terdengar.
Serangan tersebut terjadi setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memperingatkan bahwa Iran bisa menghadapi “hari serangan paling intens” jika ketegangan terus meningkat.
Amerika Serikat tidak tinggal diam. Militer AS dilaporkan melakukan operasi balasan dengan menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran di sekitar Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia.
Gedung Putih sebelumnya telah mengingatkan bahwa Iran akan menghadapi respons militer besar jika mencoba menempatkan ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut.
Serangkaian serangan ini menambah kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah. Keterlibatan milisi pro-Iran, serangan terhadap pangkalan militer, serta operasi balasan di jalur perdagangan energi global menunjukkan bahwa situasi dapat berkembang menjadi krisis regional yang lebih besar. (H-4)




