FAJAR, MAMUJU – Organisasi kepemudaan Forum Zilenial Sulawesi Barat (Forzil Sulbar) sukses menggelar Musyawarah Besar (Mubes) di Dap Cafe, Mamuju, pada akhir pekan lalu. Agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah memilih ketua umum baru untuk masa kepengurusan periode 2026-2027.
Mubes ini digelar menyusul pengunduran diri Ketua Umum sebelumnya, Andi Ahmad Fadhil, dari jabatannya. Fadhil yang tengah menjalani periode keduanya sebagai ketua umum memutuskan untuk mundur setelah satu tahun memimpin di periode ini, meskipun masa jabatannya sesuai AD ART organisasi masih menyisakan satu tahun lagi.
Dalam sambutannya, Andi Ahmad Fadhil menegaskan bahwa keputusan ini telah direncanakan sejak awal. “Sejak saya dipilih untuk kedua kalinya sebagai ketum, saya sudah sampaikan bahwa saya akan berhenti di tahun pertama. Saya mau organisasi ini dijalankan oleh orang-orang baru, sebab saya telah terlalu lama di organisasi ini sebagai ketua,” ujar Fadhil di hadapan peserta musyawarah.
Diketahui, Andi Ahmad Fadhil telah menjadi nahkoda Forzil Sulbar sejak tahun 2022 hingga 2026. Sebelum memimpin, ia juga merupakan Wakil Ketua Umum pertama di masa awal pendirian organisasi pada rentang tahun 2019-2022. Dengan pengabdian yang panjang tersebut, langkah mundurnya disebut sebagai bentuk komitmen terhadap regenerasi kepemimpinan di internal Forzil.
Mubes yang berlangsung kondusif tersebut akhirnya menetapkan Susan Angraeni, seorang mahasiswi Universitas Terbuka Majene, sebagai ketua umum terpilih. Penunjukan Susan menjadi catatan penting dalam sejarah organisasi, karena ia merupakan ketua umum perempuan pertama yang memimpin Forzil Sulbar.
Dalam sambutan perdananya, Susan menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan. “saya berterima kasih kepada teman-teman atas kepercayaannya. saya akan melanjutkan apa yang telah kita lakukan di forzil. saya juga mohon dukungan serta bimbingan dari kak fadil dan kakak kakak semua untuk bisa memimpin forzil lebih baik lagi” tuturnya penuh haru.
Terpilihnya Susan dinilai menjadi titik balik reformasi organisasi, menandai babak baru kepemimpinan yang lebih inklusif. Dengan semangat dan tekad baru, kepengurusan di bawah komando Susan diharapkan mampu membawa Forzil Sulbar semakin jaya dan konsisten melangkah menuju cita-cita organisasi. (*)





