Konflik yang terjadi di Timur Tengah antara Iran-Amerika Serikat-Israel membuat aktivitas pariwisata di kota bersejarah Petra, Yordania, mengalami penurunan drastis. Otoritas setempat menyebut seluruh pemesanan wisata untuk bulan Maret 2026, dibatalkan akibat kondisi regional yang mempengaruhi minat perjalanan wisatawan.
Kepala Komisioner Petra Development and Tourism Region Authority, Adnan Al Sawair, mengatakan tingkat pembatalan pemesanan wisata ke Petra pada Maret mencapai 100 persen.
Ia menjelaskan bahwa situasi kawasan yang tidak kondusif berdampak langsung pada aktivitas pariwisata di kota yang menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Yordania tersebut.
“Sebanyak 60 persen pemesanan untuk April telah dibatalkan, sementara 45 persen pemesanan untuk Mei juga dibatalkan. Angka ini kemungkinan masih akan terus meningkat,” ujarnya, seperti dilansir Ammon News.
Menurut Al Sawair, pariwisata di Petra sebenarnya sempat menunjukkan tren positif pada awal 2026, dengan jumlah kunjungan wisatawan yang menjanjikan. Namun, kondisi regional membuat jumlah wisatawan turun tajam, bahkan sempat mencapai titik nol pada beberapa periode.
Petra sendiri merupakan salah satu kota yang paling terdampak, karena sebagian besar masyarakat setempat bergantung pada sektor pariwisata sebagai sumber ekonomi utama.
Untuk mengurangi dampak terhadap pekerja di sektor pariwisata, otoritas wilayah Petra mulai mengambil sejumlah langkah antisipatif. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali program promosi wisata domestik, seperti Urdunna Jannah, guna mendorong kunjungan wisatawan lokal.
Selain itu, pemerintah setempat juga akan memanfaatkan periode penurunan jumlah wisatawan ini untuk melakukan berbagai proyek pengembangan kota, termasuk kegiatan pembersihan kawasan wisata, serta perbaikan infrastruktur.





