Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, depresiasi alias pelemahan nilai tukar sejak Perang Iran dengan AS-Israel pecah, masih lebih baik dibandingkan dengan depresiasi pada mata uang negara-negara lainnya.
Menurutnya, rupiah masih terdepresiasi secara moderat sejalan dengan penguatan dolar AS secara global, dan relatif lebih baik dibandingkan banyak peer countries (negara-negara sejawat).
“Rupiah terdepresiasi 0,3 persen (month-to-date/mtd atau sejak perang dimulai hingga hari ini), jauh lebih baik dibandingkan dengan mata uang negara-negara di sekeliling kita,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA Edisi Maret 2026, Rabu, 11 Maret 2026.
- Antara
Dia mencontohkan bahwa Ringgit Malaysia terdepresiasi sebesar 0,5 persen (mtd), dan Baht Thailand turun sebesar 1,6 persen (mtd). Lalu Peso Filipina juga terdepresiasi 1,4 persen (mtd), dan Dolar Singapura terdepresiasi 0,3 persen (mtd).
“Ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal-moneter yang kuat,” ujarnya.
Purbaya mengaku, banyak masyarakat yang menyampaikan kritik pada dirinya melalui media sosial terkait pelemahan rupiah tersebut. Dia pun meminta publik untuk menilai secara adil, dan memahami bagaimana posisi rupiah yang sesungguhnya apabila dibandingkan dengan mata uang negara lainnya.
“(Rupiah) kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fisikal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita cukup baik,” kata Purbaya.
Dia berharap, kinerja fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga positif itu, akan mampu terus mendorong penguatan pasar modal domestik terutama pada investasi saham.
“Kalau ekonominya, fundamentalnya baik terus, otomatis pelan-pelan saham akan naik lagi ke level yang lebih baik dari sekarang,” ujarnya.
Diketahui, pada perdagangan di pasar spot pada Rabu, 11 Maret 2026 hingga pukul 09.12 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 16.858 per dolar AS. Posisi itu menguat 5 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.863 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, cadangan devisa Indonesia dikhawatirkan semakin tergerus seiring pelemahan rupiah akibat tekanan global, terutama imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
"Posisi cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 pun sudah semakin menipis, hingga tersisa US$151,9 miliar. Jumlah itu kian susut dari posisi awal pada Januari 2026 sebesar US$154,6 miliar," ujarnya.





