REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON — Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) secara resmi menginformasikan kepada industri pelayaran global bahwa mereka saat ini tidak mampu memberikan pengawalan militer bagi kapal-kapal komersial yang melewati Selat Hormuz. Keputusan tersebut diambil menyusul tingginya risiko serangan di tengah eskalasi agresi AS-Israel terhadap Iran yang terus memanas.
Al Mayadeen mengutip sumber dari Reuters, melaporkan, perusahaan pelayaran telah mengajukan permintaan pengawalan hampir setiap hari sejak perang pecah. Meski demikian, pejabat militer AS menyatakan bahwa situasi keamanan terlalu berbahaya untuk menjamin keselamatan pelayaran di jalur vital tersebut.
Baca Juga
Umat Islam di Bali Boleh Takbiran tanpa Pengeras Suara Jika Malam Idul Fitri Bersamaan dengan Nyepi
Iran Sasar Aset Ekonomi AS di Bank-Bank di Regional
Iran Tantang Operasi Darat Amerika, Kesempatan untuk 'Menghabisi' dan Menyandera Tentara AS
Selat Hormuz merupakan salah satu titik hambat (chokepoint) maritim paling kritis di dunia, yang menyalurkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak global. Sejak dimulainya agresi terhadap Iran lebih dari sepekan lalu, aktivitas pelayaran di selat sempit tersebut praktis terhenti.
Ratusan kapal dilaporkan memilih untuk membuang sauh sambil menunggu jaminan keamanan. Gangguan ini telah memicu lonjakan harga energi dunia, di mana minyak mentah jenis Brent kini mendekati angka 90 dolar AS per barel, level tertinggi yang tidak terlihat sejak 2022.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pihak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebelumnya telah memperingatkan telah menutup selat tersebut. Teheran menegaskan, kapal apa pun yang mencoba melintas berisiko menjadi sasaran serangan. Beberapa kapal dilaporkan telah terkena hantaman sejak eskalasi dimulai.