Komitmen Bersama Menjaga Relasi Baik di Sekolah

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Membangun karakter murid bukan hanya tugas guru di sekolah. Semua warga sekolah harus aktif menjalankan perannya masing-masing dengan optimal demi masa depan anak. Kolaborasi dan komunikasi yang baik sejak awal dan berkelanjutan menjadi kunci agar tidak menimbulkan persoalan dalam setiap dinamika perkembangan anak.

Berbagai sekolah berupaya menciptakan keharmonisan relasi antara murid, orangtua, dan guru dengan cara masing-masing. Yayasan Sekolah Kembang Jakarta, misalnya. Institusi ini percaya bahwa pendidikan bukan semata soal kurikulum atau metode belajar akademis, melainkan juga tempat tumbuh kembang karakter anak.

Ketua Yayasan Sekolah Kembang, Lestia Primayanti mengatakan, pihaknya selalu menempatkan orangtua sebagai aktor sentral karena merekalah yang seharusnya paling mengenal karakter anaknya sejak lahir. Sementara, sekolah berperan membantu mengembangkan potensi diri dan hal-hal baik yang sudah ditanamkan orangtua.

Karena itu, setiap orangtua yang ingin mendaftarkan anaknya harus mau terlibat bersama sekolah, bukan hanya menyerahkan ke pihak sekolah. Berbeda dengan banyak sekolah yang menyeleksi ketat calon siswa, Sekolah Kembang justru lebih banyak menyeleksi orangtua terlebih dahulu.

Proses wawancara orangtua dilakukan untuk memastikan keselarasan nilai antara rumah dan sekolah. Dalam wawancara, orangtua akan ditanya apakah mereka benar-benar mengenal anaknya, apa harapan mereka terhadap pendidikan, bagaimana pendekatan pengasuhan di rumah, hingga bagaimana mereka memaknai pendidikan nilai.

"Kami selalu tanya sama semua calon orangtua siswa, pastikan bahwa ini memang sekolah yang selaras dengan nilai-nilai keluarganya. Karena menurut kami, tidak ada sekolah yang paling baik, sekolah akan baik jika nilai-nilainya selaras dengan nilai keluarganya," kata Lestia saat ditemui, Kamis (26/2/2026).

Inti dari segala sesuatu itu adalah dari komunikasi karena semua bisa dibicarakan baik-baik.

Dia mengungkapkan, tidak sedikit calon murid yang tidak diterima karena nilai sekolah dan orangtua tidak cocok. Misalnya, ada orangtua mencari sekolah yang sangat kompetitif dan berorientasi pada skor akademik, sementara Sekolah Kembang menempatkan perkembangan karakter dan akademik sebagai satu kesatuan.

Sekolah Kembang yang melayani jenjang PAUD-SMP ini menerapkan Kurikulum Nasional yang dimodifikasi. Mereka berfokus pada pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang menekankan pada pengembangan keterampilan hidup, minat, dan kesehatan mental, tanpa banyak menggunakan buku teks konvensional melainkan bahan belajar otentik.

Baca JugaKasus Kekerasan di Sekolah Melonjak, Picu Bunuh Diri dan Balas Dendam

Tidak heran jika sekolah ini tidak terlalu banyak menerapkan metode pembelajaran guru ceramah di ruang kelas. Para muridnya lebih banyak berdiskusi menyelesaikan proyek belajar individu maupun kelompok. Guru berperan mendampingi setiap prosesnya.

Dalam mendisiplinkan muridnya, sekolah ini telah meninggalkan metode reward and punishment lalu beralih ke pendekatan disiplin positif. Praktik baik ini tidak terbentuk dalam waktu singkat, melainkan buah dari pengalaman panjang sejak sekolah ini berdiri pada tahun 1974. Semua berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak mampu dan berdaya.

Alih-alih memberi hukuman, guru justru mengajak anak berdialog saat terjadi kesalahan. Kelas diajak membuat kesepakatan bersama tentang batasan dan perilaku yang diharapkan. Anak dilibatkan dalam menentukan tujuan belajar, bahkan memimpin aktivitasnya sendiri.

Baca JugaGuru Jadi Jembatan Mewariskan Kearifan Lokal Semangat Perdamaian

Dengan begitu, anak-anak belajar mengendalikan atau meregulasi dirinya sendiri dengan guru sebagai teman cerita. Ketika disiplin positif ini diterapkan, perilaku-perilaku yang kurang baik juga berkurang.

“Ketika guru yakin anak itu mampu, cara komunikasinya berubah. Mereka lebih menghargai, mau mendengarkan suara anak. Jadi guru kini bukan lagi telling atau mendikte, tapi teman diskusi. Kami tidak ingin anak yang patuh. Kami ingin muris harus bisa meregulasi dirinya,” ucap Lestia.

Lestia menegaskan, orangtua harus aktif terlibat dalam proses tersebut. Pihak sekolah secara berkala mengadakan pertemuan bersama murid dan orangtuanya, setidaknya enam sampai delapan kali dalam setahun.

Dalam pertemuan itu setiap orang memiliki hak yang sama untuk bersuara demi kebaikan bersama, khususnya masa depan anak. Keterikatan untuk tumbuh bersama pun semakin erat karena dibalut dalam nuansa makan bersama yang hangat layaknya keluarga besar.

"Budaya ini memang kami pelihara terus supaya orangtua dan kami juga terus-menerus belajar bareng-bareng. Bahkan rapor pun kami berikan ke anak terlebih dahulu untuk refleksi bareng antara murid dan gurunya, baru ke orangtuanya," ungkapnya.

Baca JugaPendidikan Karakter Dibenahi dengan Pendekatan Kultural

Dengan pola komunikasi terbuka dan intens, konflik besar nyaris tidak pernah terjadi. Tidak ada kasus orangtua melaporkan guru ke polisi atau drama berkepanjangan soal teguran disiplin.

“Semua upaya itu buahnya trust. Guru dan orangtua sama-sama punya trust dan respect satu sama lain,” ujar Lestia.

Lestia mengakui, hal-hal baik ini bisa terjadi berkat kesadaran sekolah untuk membatasi rombongan belajar maksimal 22 anak. Struktur ini bukan sekadar soal rasio, melainkan pilihan sadar untuk memastikan interaksi yang intens dan personal.

Meski begitu, praktik baik ini juga bisa diterapkan di SD Negeri 15 Slipi, Jakarta yang jumlah muridnya lebih banyak dan beragam. Sebab, kunci utamanya adalah komunikasi dan pencegahan sejak dini.

Wakil Kepala SDN 15 Slipi, Suriadin mengungkapkan, pihaknya sejak masa pengenalan lingkungan sekolah dan secara rutin berkomunikasi dengan orangtua untuk menyampaikan rambu-rambu tentang peran masing-masing pihak, serta menekankan peran orangtua dalam pembentukan karakter anak. Sebab, karakter dasar anak sejatinya terbentuk sejak dari rumah.

Baca JugaHukuman Fisik yang Mengoyak Relasi Guru, Siswa, dan Orangtua

Suriadin mengakui bahwa pola pendidikan tidak bisa lagi sepenuhnya sama seperti dahulu. Banyak konflik muncul karena masing-masing pihak masih memegang prinsip lama tanpa menyesuaikan dengan konteks sosial saat ini. Perubahan pola asuh, perkembangan media sosial, serta keberanian anak-anak masa kini menuntut pendekatan yang lebih adaptif.

“Inti dari segala sesuatu itu adalah dari komunikasi karena semua bisa dibicarakan baik-baik. Sekecil apapun masalah, jangan langsung main media sosial, karena kalau sudah naik ke media sosial, kita susah mengendalikan persepsi banyak orang," ucap Suriadin.

Relasi yang sehat itu, terus dibangun lewat kebiasaan harian. Setiap pagi, SDN 15 selalu menugaskan guru untuk menyambut murid di gerbang. Di kelas, sebelum belajar dimulai, siswa diberi ruang untuk saling bertanya kabar. Kebiasaan untuk saling bersalaman kepada guru dan sesama murid itu dilanjutkan hingga akan pulang sekolah.

Selain itu, beberapa kegiatan untuk menciptakan budaya aman dan nyaman yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pun dilakukan. Sekolah rutin mengadakan kegiatan bersama seperti salat berjamaah, tadarus, senam bersama, hingga pentas minat bakat mingguan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan kebersamaan. Lokasi SDN 15 yang berdampingan dengan sekolah luar biasa (SLB) juga secara tidak langsung menumbuhkan empati dan mencegah perundungan.

"Dengan kebiasaan yang kami bangun itu, belum mulai belajar saja anak-anak sudah merasa nyaman bertemu gurunya. Kesepakatan kelas juga muncul dari anak-anaknya yang diketahui oleh orangtua," tuturnya.

Baca JugaAturan Baru Penanganan Kekerasan di Sekolah Kurang Tegas

Kemendikdasmen melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman adalah dasar dari penguatan pendidikan karakter di sekolah. Fokus utamanya terletak pada perluasan perlindungan yang tidak hanya pencegahan kekerasan fisik, namun meluas hingga ke lingkungan luar sekolah serta aspek keamanan di ruang digital.

Kepala Pusat Penguatan Karakter (Kapuspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa sekolah harus hadir sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi murid. Ada aspek utama menjadi fondasi dalam kebijakan ini, pertama; pemenuhan kebutuhan spiritual, setiap warga sekolah dilindungi untuk beribadah dan mengekspresikan identitas sesuai keyakinannya.

Kedua, aspek pelindungan fisik melalui penyediaan sarana dan prasarana yang layak, terutama bagi penyandang disabilitas. Ketiga adalah keamanan sosiokultural, yang memberikan kesempatan setara kepada setiap murid untuk berkembang tanpa adanya diskriminasi.

Baca JugaBu Budi Tak Bersalah, Polisi Hentikan Penyelidikan Guru di Pamulang

Aspek keempat yang tidak kalah penting adalah keadaban dan keamanan digital. Kemendikdasmen berkomitmen untuk melindungi data pribadi Warga Sekolah dalam proses pembelajaran.

"Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi anak, tempat mereka merasa aman secara fisik, sejahtera secara psikologis dan sosial, terpenuhi kebutuhan spiritualnya, serta terlindungi di ruang digital," kata Rusprita.

Dia menegaskan, sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Kepala sekolah berperan memimpin jalannya kebijakan dan menjadi teladan. Sementara guru bertugas menciptakan pembelajaran yang aman dan nyaman serta melakukan deteksi dini terhadap adanya pelanggaran.

Di sisi lain, murid didorong untuk berpartisipasi aktif melalui gerakan rukun sama teman dan orangtua atau wali murid diharapkan memberikan panutan dengan menyelaraskan pola pengasuhan di rumah dengan nilai-nilai penguatan karakter yang ada di sekolah.

Baca JugaRelasi Guru, Orangtua, dan Murid Semakin Rapuh

Partisipasi dari masyarakat juga menjadi aspek dalam menjaga keamanan lingkungan sekitar sekolah. Aspek terakhir adalah media, yang bertanggung jawab besar dalam menyajikan konten edukatif yang mendukung perlindungan kesehatan mental murid.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Freya JKT48 Lapor Polisi Soal Dugaan Manipulasi Foto Tak Senonoh
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Berkunjung ke Ponpes Al Munawir, PSI Ambil Jeda dan Ngecharge Batin
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Purbaya Bantah Isu Resesi, Sebut Ekonomi Indonesia Masih Ekspansi
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Iran Luncurkan Rudal dengan Hulu Ledak 2 Ton ke Israel dan Pangkalan AS
• 7 jam lalusuara.com
thumb
HUT ke-12 Suara.com, Kabid Humas Polda Metro Berharap Jadi Media Edukatif dan Penyejuk Masyarakat
• 21 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.