JAKARTA, KOMPAS.com – Berenang di dalam akuarium raksasa yang dipenuhi ribuan ikan menjadi pengalaman langka bagi kebanyakan orang. Namun, bagi Chandra (35), penyelam di SeaWorld Ancol, Jakarta Utara, aktivitas tersebut justru menjadi rutinitas sehari-hari.
Selama tujuh tahun terakhir, Chandra bekerja menyelam di akuarium SeaWorld yang menjadi rumah bagi sekitar 175 spesies biota laut dengan total sekitar 8.000 ikan.
Ia tidak hanya melihat biota laut tersebut dari balik kaca akuarium, tetapi juga berenang langsung di antara ribuan ikan itu.
Meski setiap hari berada di dalam air laut buatan akuarium, Chandra mengaku bersyukur kondisi kulit dan tubuhnya tetap sehat.
Baca juga: Sensasi Bekerja di Balik Akuarium Raksasa SeaWorld, Bersahabat dengan Ikan Mematikan
Air laut di akuarium lebih bersihMenurut Chandra, kondisi air laut di akuarium SeaWorld justru lebih bersih dibandingkan air laut alami di perairan terbuka.
"Enggak pernah gatal, karena air di sini (akuarium SeaWorld) lebih bagus. Ini memang air laut asli yang kami ambil dari Ancol cuma dalam prosesnya untuk masuk ke sini panjang," ucap Chandra ketika diwawancarai di lokasi, Selasa (10/3/2026).
Air laut yang digunakan di akuarium tidak langsung dimasukkan begitu saja. Air tersebut harus melalui serangkaian proses panjang, seperti ozonisasi, filtrasi, dan beberapa tahapan pemurnian lainnya.
Melalui proses tersebut, air laut yang masuk ke dalam akuarium dipastikan telah terbebas dari kotoran dan bakteri sehingga lebih jernih dan aman bagi biota laut maupun penyelam.
Kualitas air yang baik menjadi hal penting karena akuarium tidak hanya dihuni oleh ribuan ikan, tetapi juga menjadi tempat kerja para penyelam yang harus berada di dalam air dalam waktu tertentu.
Meski demikian, Chandra menyadari bahwa pekerjaannya tetap memiliki risiko tinggi jika tidak dilakukan dengan hati-hati.
Salah satu risiko kesehatan yang dapat dialami penyelam adalah dekompresi, yaitu kondisi ketika nitrogen di dalam darah atau jaringan tubuh membentuk gelembung akibat perubahan tekanan secara drastis.
"Kalau dekompresi bahaya sekali bisa menyebabkan kematian, paru-paru bisa jebol, gendang telinga bisa pecah," tutur dia.
Baca juga: Tren Sewa Akuarium di Perkantoran Jakarta Meningkat, Dongkrak Suasana dan Produktivitas
Air di akuarium tak selalu lebih amanDokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah, Dias Septalia Ismaniar menjelaskan, secara umum kualitas air laut di akuarium besar seperti SeaWorld memang lebih terkontrol dibandingkan air laut alami.
"Tetapi tidak selalu berarti lebih aman secara absolut untuk kesehatan. Bakteri tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, karena akuarium adalah ekosistem hidup dan ikan, makanan ikan, serta biofilter selalu menghasilkan mikroorganisme," kata Dias dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Selasa.
Menurut dia, beberapa jenis bakteri masih dapat ditemukan di sistem akuarium, salah satunya Mycobacterium marinum, yang dapat menyebabkan infeksi kulit pada orang yang sering bersentuhan dengan air akuarium.
Dias juga membenarkan salah satu risiko kesehatan yang sering dihadapi penyelam adalah Decompression Sickness (DCS).
Dekompresi merupakan kondisi medis ketika gelembung gas, terutama nitrogen, terbentuk di dalam darah dan jaringan tubuh akibat perubahan tekanan yang terlalu cepat. Kondisi ini biasanya terjadi ketika penyelam naik ke permukaan terlalu cepat setelah menyelam dalam waktu lama.
Saat penyelam berada di dalam air, tekanan terhadap tubuh akan meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman. Dias menjelaska, tekanan di bawah air dapat meningkat sekitar satu atmosfer setiap 10 meter kedalaman air laut.
Baca juga: Kisah Penyelam SeaWorld, Bertaruh Nyawa Hadapi Hiu yang Peka terhadap Detak Jantung
Semakin tinggi tekanan yang diterima tubuh, semakin banyak gas nitrogen dari udara yang dihirup larut ke dalam darah dan jaringan tubuh.
Semakin dalam dan semakin lama seseorang menyelam, maka semakin banyak nitrogen yang terserap oleh darah, otot, jaringan lemak, dan sendi.





