Forum Perempuan yang diselenggarakan FNM Society bersama Takeda menekankan pentingnya kepemimpinan perempuan dalam memperkuat kesehatan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan bertajuk “Rights. Justice. Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan” ini digelar dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026 dan melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta lembaga internasional.
Pendiri dan Ketua FNM Society sekaligus Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M(K), menegaskan perempuan tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat program kesehatan, tetapi juga penggerak perubahan di masyarakat.
“Hari Perempuan Internasional adalah momentum untuk melihat perempuan sebagai pemimpin dan agen perubahan. Kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar hak dan keadilan benar-benar terwujud dalam tindakan nyata,” kata Prof. Nila.
Secara global, laporan Global Gender Gap 2025 menunjukkan posisi Indonesia berada di peringkat ke-97 dunia, naik tiga posisi dibandingkan tahun sebelumnya. Skor kesetaraan gender Indonesia juga meningkat dari 68,6% menjadi 69,2%. Peningkatan ini tercermin dari bertambahnya keterwakilan perempuan dalam posisi kepemimpinan. Skor kesetaraan untuk kategori legislator, pejabat senior, dan manajer meningkat dari 20,5% pada 2006 menjadi 49,4% pada 2025.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menegaskan pemerintah berkomitmen memastikan perempuan memperoleh kesempatan setara dalam pembangunan nasional.
“Kemajuan perempuan harus dimulai dari pemenuhan hak-hak dasar, dilanjutkan dengan penegakan keadilan, dan diwujudkan melalui aksi nyata dalam kebijakan dan program pembangunan berkelanjutan. Salah satu prinsip penting dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan adalah kesetaraan gender,” ujar Arifah.
Di sektor kesehatan, sejumlah indikator juga menunjukkan kemajuan. Data WHO Global Health Observatory 2023 mencatat 63,2% persalinan di Indonesia berlangsung di fasilitas kesehatan, sementara 90,6% perempuan menerima layanan antenatal care minimal empat kali selama kehamilan.
Namun, tantangan struktural masih muncul. Data Badan Pusat Statistik 2024 menunjukkan sekitar 5,9% perempuan berusia 20–24 tahun menikah atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun, yang berpotensi memengaruhi kesehatan, pendidikan, dan kemandirian mereka.
Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr. Lovely Daisy, MKM, menilai penguatan sistem kesehatan harus menempatkan pencegahan sebagai fondasi utama dengan melibatkan perempuan di tingkat keluarga dan komunitas.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong praktik hidup sehat di tingkat keluarga dan komunitas, mulai dari kesehatan ibu dan anak hingga kesehatan reproduksi,” ujar Lovely.
Forum ini diikuti lebih dari 500 peserta secara luring dan daring. Melalui forum tersebut, FNM Society dan Takeda berharap kolaborasi lintas sektor dapat memperkuat peran perempuan sebagai pemimpin komunitas dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan bagi keluarga serta generasi mendatang.




