Taipan Raksasa di Balik Konsistensi Tim Super League dari Persib, Persebaya, PSM hingga Persija: Siapa Paling Tajir?

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Di lapangan hijau, sepak bola selalu tampak sederhana. Sebelas pemain berlari mengejar bola, ribuan suporter berteriak dari tribun, dan sembilan puluh menit yang kerap menentukan nasib sebuah musim. Namun di balik gegap gempita itu, ada dunia lain yang tak kalah menentukan: ruang rapat, struktur kepemilikan saham, dan jaringan bisnis para pemilik klub.

Dalam dua dekade terakhir, wajah sepak bola Indonesia perlahan berubah. Klub tidak lagi hanya berdiri di atas romantisme komunitas atau dukungan pemerintah daerah. Banyak di antaranya kini ditopang oleh kekuatan finansial para konglomerat, perusahaan investasi, hingga tokoh politik yang melihat sepak bola sebagai bagian dari ekosistem industri.

Super League—kompetisi kasta tertinggi sepak bola nasional—menjadi panggung yang memperlihatkan transformasi tersebut dengan jelas.

Di sana, beberapa klub besar ternyata memiliki “penjaga” dari kalangan taipan yang kekuatan ekonominya melampaui batas stadion.

Surabaya dan Cerita Jawa Pos

Persebaya Surabaya menjadi salah satu contoh menarik bagaimana sepak bola dan dunia media saling bertaut.

Selama beberapa tahun terakhir, klub kebanggaan Bonek itu berada di bawah pengelolaan PT Jawa Pos Sportainment. Perusahaan ini dipimpin oleh Azrul Ananda, sosok yang dikenal luas di dunia bisnis media dan olahraga.

Azrul bukan nama baru di Surabaya. Ia adalah putra Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN yang juga pernah memimpin kerajaan media Jawa Pos. Di bawah tangan Azrul, Persebaya tidak hanya berusaha membangun kekuatan di lapangan, tetapi juga memperbaiki manajemen klub yang sempat terpuruk pada masa konflik sepak bola nasional.

Sekitar 70 persen saham Persebaya berada di bawah perusahaan tersebut, sementara sisanya dimiliki oleh Koperasi Surya Abadi Persebaya—sebuah simbol bahwa akar komunitas klub masih dipertahankan.

Ketika Azrul Ananda memutuskan mundur dari posisi CEO, publik Surabaya sempat terkejut. Bagi banyak suporter, ia dianggap sebagai figur yang membantu mengembalikan stabilitas klub setelah masa-masa sulit.

Namun dalam dunia bisnis sepak bola, perubahan kepemimpinan sering kali menjadi bagian dari dinamika yang tidak terelakkan.

Persija dan Bayang-bayang Konglomerasi

Jika Surabaya memiliki Jawa Pos, Jakarta memiliki jaringan bisnis yang jauh lebih besar.

Persija Jakarta selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan Bakrie Group—salah satu konglomerasi bisnis terbesar di Indonesia.

Keterlibatan kelompok bisnis ini awalnya tidak terlalu terlihat di ruang publik. Struktur kepemilikan Persija sempat tersusun melalui beberapa entitas perusahaan, membuat pengaruh Bakrie Group tidak selalu tampil secara langsung.

Namun setelah Persija menjuarai Liga 1 pada 2018, hubungan tersebut semakin terang. Sejumlah figur yang terafiliasi dengan kelompok bisnis itu masuk dalam struktur manajemen klub.

Dengan dukungan finansial dan jaringan bisnis yang luas, Persija mampu menjaga stabilitas operasional klub sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu tim terbesar di Indonesia.

Persib, Investasi Global, dan Ambisi Besar

Di Bandung, cerita kepemilikan klub memiliki warna yang sedikit berbeda.

Persib Bandung selama ini berada di bawah pengelolaan PT Persib Bandung Bermartabat, dengan Glenn Sugita sebagai pemegang saham utama sekaligus direktur utama.

Sugita telah berinvestasi di klub ini sejak 2009—sebuah periode yang menandai transformasi besar Persib menuju manajemen yang lebih profesional.

Namun yang menarik, perjalanan Persib juga memiliki keterkaitan dengan dunia investasi global. Northstar Group, perusahaan private equity berbasis di Singapura yang didirikan Patrick Waluyo, memiliki jaringan relasi bisnis dengan beberapa figur di sekitar klub.

Relasi ini memperlihatkan bagaimana sepak bola Indonesia mulai bersinggungan dengan arus investasi internasional.

Ambisi Persib bahkan dikabarkan melampaui batas kompetisi domestik. Wacana membawa klub ini melantai di bursa saham pernah muncul sebagai bagian dari strategi besar untuk meningkatkan valuasi klub.

Jika benar terealisasi, langkah itu bisa menjadi babak baru dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Bali United dan Model Klub Modern

Bali United sering disebut sebagai klub dengan manajemen paling modern di Indonesia.

Klub yang bermarkas di Pulau Dewata ini dimiliki oleh Tanuri Group dengan dukungan jaringan bisnis Salim Group. Di bawah kepemimpinan Peter dan Yabes Tanuri, Bali United berkembang menjadi entitas olahraga sekaligus perusahaan publik.

Mereka menjadi klub sepak bola pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Indonesia.

Langkah tersebut menjadikan Bali United bukan sekadar tim sepak bola, tetapi juga perusahaan yang harus mempertanggungjawabkan kinerja finansialnya kepada para investor.

Model ini mendekatkan sepak bola Indonesia dengan praktik industri olahraga global.

Bosowa dan Kebanggaan Timur

Sementara itu di Makassar, PSM memiliki cerita yang tak kalah kuat.

Klub tertua di Indonesia itu berada di bawah kendali Bosowa Group, konglomerasi bisnis yang didirikan oleh pengusaha Sulawesi Selatan, Aksa Mahmud.

Melalui Bosowa Sport Indonesia, kelompok bisnis ini menjadi pemegang saham mayoritas PT Persaudaraan Sepak Bola Makassar sejak 2015.

Sejumlah anggota keluarga Bosowa juga terlibat langsung dalam manajemen klub. Salah satunya adalah Sadikin Aksa yang menjabat sebagai komisaris utama PSM.

Kehadiran Bosowa membantu PSM mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan finansial yang semakin ketat di liga nasional.

Dari Banjarmasin hingga Sleman

Fenomena kepemilikan klub oleh taipan tidak hanya terjadi di kota-kota besar.

Di Banjarmasin, Barito Putera berada di bawah naungan Hasnur Group. Perusahaan keluarga ini memiliki bisnis di berbagai sektor, mulai dari pertambangan hingga transportasi.

Klub tersebut dikelola oleh Hasnuryadi Sulaiman, putra pendiri Hasnur Group yang juga aktif di dunia politik sebagai anggota DPR RI.

Sementara di Sleman, PSS memiliki hubungan dengan jaringan bisnis yang berkaitan dengan Medco Group—perusahaan energi yang didirikan oleh mendiang Arifin Panigoro.

Struktur kepemilikan klub melibatkan sejumlah perusahaan yang memiliki relasi dengan kelompok bisnis tersebut.

Sepak Bola sebagai Industri

Di Madura, Madura United berada di bawah kendali pengusaha Ahsanul Qosasi melalui perusahaan PT Garuda Tani Nusantara.

Di bawah kepemimpinannya, klub ini dikenal memiliki manajemen finansial yang relatif stabil dan cukup aktif menarik sponsor.

Semua cerita ini menunjukkan satu kesimpulan yang sama: sepak bola Indonesia kini semakin dekat dengan dunia industri.

Para taipan yang berada di balik klub tidak hanya membawa uang, tetapi juga membawa jaringan bisnis, strategi manajemen, dan visi jangka panjang.

Namun pertanyaan yang sering muncul tetap sama: siapa yang paling tajir?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana menghitung nilai kekayaan para pemilik klub. Dalam sepak bola modern, kekuatan finansial memang penting, tetapi stabilitas manajemen dan kedekatan dengan suporter sering kali menjadi faktor yang jauh lebih menentukan.

Karena pada akhirnya, sepak bola bukan hanya soal angka di laporan keuangan.

Ia adalah cerita panjang tentang kota, identitas, dan ribuan orang yang percaya bahwa klub kesayangan mereka adalah bagian dari hidup yang tak tergantikan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Investor Pantau Sentimen Global
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
Panglima TNI Jawab Soal Status Siaga 1: Kita Uji Kesiapsiagaan Personel
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Gempa M5,0 Guncang Tojo Una-una Sulteng, Tidak Berpotensi Tsunami
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 di Kabupaten Bekasi Kamis 12 Maret
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Pusat Kota Beirut Porak-poranda Usai Serangan Israel
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.