Menteri Pigai: Pers jadi pilar pembangunan peradaban HAM

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mendorong pers tidak hanya berperan sebagai pilar demokrasi, tetapi juga menjadi pilar penting dalam pembangunan peradaban hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

Dia menilai peran pers sangat penting dalam menghadirkan keadilan di ruang publik, terutama ketika masyarakat menghadapi ketimpangan atau persoalan dalam proses penegakan hukum.

“Pers adalah jendela dunia. Media itu jendela dunia, media itu cakrawala bangsa. Kalau tanpa media, gelap gulita,” kata Pigai dalam Kick Off dan Launching Program Media Pers dan Pembangunan Peradaban HAM di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, pengalaman menangani ribuan laporan selama menjabat sebagai komisioner Komnas HAM menunjukkan bahwa pers sering kali menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk memperjuangkan keadilan.

Dia mengatakan selama lima tahun bertugas di lembaga tersebut dirinya menangani sekitar 15.000 kasus.

Pigai menjelaskan dalam sejumlah kasus, proses peradilan tidak selalu berjalan secara profesional, imparsial, dan objektif. Kondisi tersebut, menurut dia, kerap memunculkan tekanan publik melalui media dan gerakan masyarakat.

“Seringkali terjadi trial by the mobs (penghakiman oleh massa) atau trial by the press (penghakiman oleh media),” ujarnya.

Ia menilai keberadaan pers dalam situasi tersebut berperan sebagai penghubung antara harapan masyarakat dan upaya menghadirkan keadilan di ruang publik. Tanpa kehadiran pers, menurut dia, harapan masyarakat untuk mendapatkan keadilan belum tentu muncul atau terdengar luas.

Pigai juga menawarkan perspektif bahwa posisi pers seharusnya ditempatkan lebih luas dalam kerangka perlindungan hak asasi manusia. Selama ini, kata dia, pers kerap dipahami sebagai salah satu pilar demokrasi, padahal demokrasi merupakan bagian dari hak asasi manusia.

“Demokrasi adalah bagian dari human right (HAM), bukan human right bagian dari demokrasi,” katanya.

Karena itu, ia menilai pers perlu dipandang sebagai instrumen penting yang turut memperkuat perlindungan hak asasi manusia.

Media, menurut dia, tidak hanya berperan dalam mendorong praktik demokrasi, tetapi juga membantu menghadirkan keadilan sosial bagi masyarakat.

Pigai juga mengajak media untuk terus menghadirkan informasi yang memperkuat keadilan, terutama bagi kelompok masyarakat yang mengalami ketidakadilan atau tekanan dalam kehidupan sosial maupun hukum.

“Mari kita menghadirkan keadilan bagi mereka yang membutuhkan keadilan melalui media,” katanya.

Ia menambahkan pembangunan peradaban HAM memerlukan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat sipil, dan media. Karena itu kolaborasi antara Kementerian HAM dan komunitas pers dinilai penting untuk memperkuat upaya pemajuan HAM di Indonesia.

Pigai juga menegaskan pemerintah akan mendukung kebebasan pers sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan HAM. Ia bahkan menyatakan siap membela pers apabila menghadapi tekanan.

“Kalau ada pers yang dikritik, dianiaya, atau diberedel, saya akan pasang badan,” ujar Pigai.

Baca juga: Kementerian HAM kaji perlindungan media konvensional dari media sosial

Baca juga: Kementerian HAM siapkan kelas HAM bagi jurnalis perkuat literasi media


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puncak Arus Mudik Lebaran di Stasiun KAI Daop 8 Surabaya Diperkirakan 18 Maret 2026
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Konflik AS-Israel vs Iran Memanas, Apa Dampaknya ke Ekonomi RI?
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Terminal Kampung Rambutan Siapkan Posko Kesehatan dan Ruang Istirahat untuk Pengemudi Hadapi Arus Mudik Lebaran 2026
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Benda Kecil di Lemari Ini Ternyata Berbahaya! Bisa Picu Keracunan
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kapolri Sebut Diplomasi Pemerintah Berhasil Tekan Tarif Impor ke AS
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.