Liputan6.com, Jakarta - Jam menunjukkan pukul 08.00 waktu Istanbul. Jalan berbatu di Balat masih basah oleh sisa hujan malam hari. Rumah-rumah bergaya Ottoman dengan jendela oriel berdiri tanpa jarak. Fasad rumah-rumah cumba di Balat dicat warna-warni. Seolah mengundang turis untuk membuka kamera dan berfoto.
Banyak anak tangga yang dicat demikian. Bendera-bendera Turki berukuran kecil menggantung di atas kepala. Kucing-kucing berjalan santai di depan pintu rumah yang catnya mulai mengelupas.
Advertisement
Bangunan-bangunan di Balat layaknya desa kecil. Gang-gang berbatu yang naik turun memberikan kesan seperti berada di labirin yang penuh dengan harta karun.
Di sepanjang jalan, pohon-pohon tua tanpa daun berdiri di antara bangunan. Cabangnya menjalar ke langit kelabu menambah kesan sunyi di musim dingin Istanbul.
Mobil-mobil terparkir tanpa tergesa di sisi jalan, sementara dinding batu peninggalan kekaisaran Byzantium dibiarkan bertahan di tengah kehidupan kota modern.
Aroma kopi dari kafe-kafe kecil menyelinap di sela tembok tua. Pegawai kafe berjaket tebal memanggil para turis, menawarkan kopi dan hidangan tradisional Turki sebagai alasan untuk singgah.
Butik desainer generasi ketiga berdampingan dengan taman teh tradisional dan toko-toko kerajinan. Balat juga penuh dengan toko barang bekas yang unik, pedagang barang antik, dan juru lelang.
Balat tidak menyambut dengan kemegahan, melainkan dengan keintiman. Ketenangannya terasa kontras dengan Istanbul yang riuh. Seolah menjadi pelarian yang sempurna bagi turis.
Warna-warna cerah yang menarik kamera turis hanya lah lapisan paling luar. Di baliknya, Balat meninggalkan jejak sebagai sejarah Panjang. Berabad-abad lalu, kapal-kapal kecil merapat di Balat yang letaknya berada di tepian Tanduk Emas. Mereka membawa barang dagangan dari Laut Tengah. Pada masa Bizantium, kawasan ini berada dekat Istana Blachernae, pusat kekuasaan di ujung barat laut Konstantinopel.
Balat secara historis dipercaya berasal dari kata palation atau istana. Balat adalah distrik multikultural, area pemukiman campuran dari komunitas Yahudi, Yunani, dan Armenia. Komunitas yang bertahan di sini melewati periode Bizantium dan Ottoman.
Di Balat, Turis juga akan menemukan banyak bangunan bersejarah, mulai dari Sinagoge Ahrida, Sinagoge Yanbol, Küçük Mustafa Paşa Hamamı (Pemandian Turki), dan Gereja Sveti Stefan Bulgaria yang megah (Gereja Besi).
Namun kini tak ada yang tersisa dari kemegahan itu, selain lapisan waktu yang menempel pada tembok-tembok batu tua. Meski begitu, warisan budayanya masih terasa di setiap sudut jalan Balat hari ini, termasuk dalam tradisi kuliner yang dijaga hingga sekarang.




