Sejarah dan Asal-usul Tradisi Ngabuburit di Indonesia Saat Bulan Ramadan, Ternyata Berasal dari Ini

grid.id
6 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Tradisi ngabuburit telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia selama bulan Ramadan. Meski kini digunakan secara luas di berbagai daerah, tidak banyak yang mengetahui bahwa istilah ini berakar dari budaya Sunda.

Dosen Sastra Sunda dari Universitas Padjadjaran, Gugun Gunardi, menjelaskan bahwa kata ngabuburit berasal dari frasa Sunda “ngalantung ngadagan burit”. Ungkapan tersebut memiliki makna bersantai sembari menunggu waktu sore menjelang senja. Dalam konteks Ramadan, aktivitas ini identik dengan menanti waktu berbuka puasa.

Makna Kata Ngabuburit dalam Bahasa Sunda

Secara etimologis, istilah ngabuburit juga berkaitan dengan kata “burit” yang berarti sore atau senja. Dalam pembentukan katanya, awalan “nga” menjadikannya sebagai kata kerja, sementara pengulangan bunyi “bu” merupakan ciri khas struktur bahasa Sunda.

Rujukan resmi mengenai istilah ini dapat ditemukan dalam Kamus Sunda-Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985.

Di dalam kamus tersebut dijelaskan bahwa “burit” berarti senja, sedangkan “ngabuburit” diartikan sebagai kegiatan berjalan-jalan atau beraktivitas santai untuk menunggu waktu sore, khususnya pada bulan puasa.

Ngabuburit Sebelum Tahun 1960-an

Menurut penuturan Gugun Gunardi, istilah ngabuburit sudah dikenal sebelum dekade 1960-an. Pada masa itu, anak-anak biasanya memanfaatkan waktu menjelang berbuka dengan kegiatan yang bersifat religius, seperti membaca dan belajar menulis Al-Qur’an. Harapannya, menjelang Idul Fitri mereka sudah mampu menamatkan bacaan Al-Qur’an.

Selain kegiatan mengaji, anak-anak juga mengisi waktu dengan permainan tradisional seperti sorodot gaplok, yakni permainan sederhana menggunakan batu yang dimainkan bersama teman sebaya.

Namun, apabila ustaz telah hadir di masjid, kegiatan akan beralih menjadi nadom (melantunkan puji-pujian kepada Allah) atau bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW secara bersama-sama.

Tradisi ini menunjukkan bahwa sejak dahulu ngabuburit tidak sekadar aktivitas santai, tetapi juga sarat nilai edukatif dan spiritual.

 

Perkembangan Makna Ngabuburit di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, makna ngabuburit mengalami perluasan. Jika dulu identik dengan kegiatan religius atau permainan tradisional anak-anak, kini istilah tersebut mencakup berbagai aktivitas menjelang waktu berbuka puasa. Mulai dari berburu takjil, mengikuti kajian, hingga berkumpul bersama keluarga atau teman, semuanya kerap disebut sebagai bagian dari ngabuburit.

Meski berasal dari bahasa Sunda, istilah ini telah menjadi kosakata populer secara nasional. Penggunaan kata ngabuburit semakin meluas berkat peran media massa, baik cetak maupun televisi, yang kerap memakai istilah tersebut dalam pemberitaan Ramadan. Di era digital, media sosial juga turut memperkuat eksistensi kata ngabuburit sehingga dikenal lintas generasi dan daerah.

Kini, ngabuburit bukan hanya istilah linguistik, tetapi juga simbol kebersamaan dan kekhasan budaya Ramadan di Indonesia yang terus bertahan di tengah modernisasi. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Buka Puasa Tangerang Selatan Hari Ini 11 Maret 2026
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Trend Hijab dan Pesyar 2026 Makassar Segera Berakhir, Booth Dechantique Diserbu Pengunjung
• 5 jam laluterkini.id
thumb
KPK: Kasus Suap Ijon Proyek di Rejang Lebong Diduga Pungut Fee untuk Kebutuhan Lebaran
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Kram Otot dan Stamina Jadi Evaluasi Ubed Usai Tersingkir di Swiss Terbuka
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Ginting Melaju ke Babak Kedua Swiss Terbuka 2026 Usai Kalahkan Wang Tzu Wei
• 13 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.