Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup bervariasi pada Rabu (11/3), ketika pasar sebagian besar mengabaikan laporan inflasi yang relatif terkendali dan lebih berfokus pada meningkatnya ketegangan serta dampak yang meluas dari perang AS dan Israel terhadap Iran.
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 289,24 poin atau 0,61 persen menjadi 47.417,27. Sementara S&P 500 melemah 5,68 poin atau 0,08 persen menjadi 6.775,80, sedangkan Nasdaq Composite justru naik tipis 19,03 poin atau 0,08 persen menjadi 22.716,14.
Perdagangan berlangsung bergejolak sepanjang sesi karena investor dihadapkan pada tarik-menarik kekhawatiran terkait pasokan minyak. Iran terus menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz yang tengah diblokade. Namun, OPEC+ menenangkan pasar dengan menyatakan Arab Saudi telah meningkatkan produksi, sementara International Energy Agency (IEA) menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.
Indeks Dow mencatat penurunan persentase paling tajam di antara tiga indeks utama AS. Di sisi lain, saham produsen chip mendorong indeks Nasdaq yang berbasis teknologi mencatat kenaikan tipis pada akhir sesi. Indeks Harga Konsumen atau CPI yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa inflasi tetap moderat bulan lalu, sesuai dengan perkiraan analis.
Pertumbuhan CPI tahunan kini berada dalam selisih setengah poin persentase dari target inflasi 2 persen yang ditetapkan oleh Federal Reserve (The Fed). Meski demikian, pasar cenderung mengabaikan laporan tersebut karena data tersebut dirilis sebelum pecahnya perang dengan Iran. Hal ini mendorong lonjakan harga minyak mentah dan berpotensi memicu inflasi.
Kekhawatiran inflasi pun meningkat setelah komando militer Iran menyatakan dunia harus bersiap menghadapi kemungkinan harga minyak mentah mencapai USD 200 per barel, lebih dari dua kali lipat harga saat ini.
“Dalam lingkungan yang sangat tidak pasti seperti ini, pasar dan investor seolah kehausan akan sinyal apa pun, ke satu arah atau lainnya. Ada laporan-laporan yang keliru atau tidak akurat, dan pasar bergerak naik turun akibat berita-berita seperti itu,” kata managing partner di Keator Group, Matthew Keator.
“Semua kembali pada konsumen, dan bagaimana guncangan akibat kenaikan harga minyak yang berkepanjangan akan memengaruhi kondisi keuangan konsumen serta kebiasaan belanja mereka,” tambah Keator.
The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan mendatang. Dalam pertemuan tersebut, para pembuat kebijakan kemungkinan akan menimbang potensi lonjakan harga dengan tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja, kombinasi yang memunculkan kekhawatiran akan potensi stagflasi.
“Saya pikir istilah ‘transitory’ mungkin akan kembali digunakan. Saya kira mereka saat ini lebih khawatir pada kondisi lapangan kerja daripada inflasi, meskipun ada lonjakan harga minyak,” chief executive officer Horizon Investment Services, Chuck Carlson.
Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor barang kebutuhan pokok konsumen mencatat penurunan persentase terbesar, sementara sektor energi menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan 2,5 persen seiring naiknya harga minyak mentah.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent crude masing-masing ditutup naik 4,6 persen dan 4,8 persen.
Sektor teknologi juga menguat tipis dengan dukungan dari saham Oracle, yang memberikan proyeksi pendapatan lebih tinggi dari perkiraan berkat ekspektasi bahwa lonjakan belanja terkait kecerdasan buatan akan berlanjut hingga 2027. Saham perusahaan tersebut melonjak 9,2 persen.
Di sisi lain, JPMorgan Chase dilaporkan menurunkan valuasi sejumlah pinjaman yang dimiliki oleh kelompok kredit swasta serta memperketat penyaluran pinjaman ke sektor tersebut. Saham Ares Management turun 4,8 persen dan Apollo Global Management melemah 1,9 persen.
Saham Campbell Soup Company anjlok 7,1 persen setelah perusahaan makanan kemasan itu memangkas proyeksi tahunan dan memperingatkan tekanan yang meningkat pada paruh kedua tahun ini akibat revisi tarif AS.
Sementara itu, perusahaan pertahanan AeroVironment turun 6,3 persen setelah memperkirakan laba disesuaikan tahun 2026 berada di bawah estimasi analis.
Jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 1,84 banding 1 di New York Stock Exchange (NYSE). Tercatat 71 saham mencetak level tertinggi baru dan 121 saham mencatat level terendah baru.
Di Nasdaq Stock Market, sebanyak 1.960 saham naik dan 2.696 saham turun, sehingga saham yang melemah mengungguli yang menguat dengan rasio 1,38 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat dua level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 13 level terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 44 level tertinggi baru dan 112 level terendah baru.
Volume transaksi di bursa saham AS mencapai 17,79 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 20,09 miliar saham dalam satu sesi perdagangan penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.




