Washington (ANTARA) - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat akan mengurangi jumlah penerbangan evakuasi untuk warga negara AS dari Timur Tengah karena tidak banyak permintaan, kata Asisten Menteri Luar Negeri Dylan Johnson.
"Meskipun ketersediaan penerbangan komersial di seluruh wilayah terus membaik, penerbangan sewaan dan operasi transportasi darat Deplu AS akan dikurangi karena jumlah kursi yang tersedia pada opsi sewa kami jauh lebih besar daripada permintaan dari warga Amerika di wilayah tersebut," kata Johnson dalam sebuah pernyataan.
Pada Rabu (11/3), Deplu AS menghubungi hampir 9.000 warga negara Amerika di Uni Emirat Arab (UEA) untuk menawarkan penerbangan sewa dari Pemerintah AS.
"Terlepas dari upaya tersebut, penerbangan-penerbangan itu berangkat dari UEA dengan kursi yang masih tersedia karena kurangnya permintaan," ujarnya.
Baca juga: Bus evakuasi warga AS dari Qatar kecelakaan di Arab Saudi
Pada 28 Februari, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan mereka itu diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, mereka segera memperjelas bahwa serangan itu dilakukan karena mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama operasi militer AS dan Israel itu. Republik Islam Iran menyatakan 40 hari masa berkabung.
Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei itu sebagai tindak pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengutuk operasi AS-Israel itu dan menyerukan segera dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan.
Sumber: Sputnik-OANA
Baca juga: Kemlu pastikan WNI yang dipulangkan dari Iran tiba di RI hari ini
Baca juga: Australia desak anggota keluarga diplomat tinggalkan UEA di tengah konflik Timur Tengah
"Meskipun ketersediaan penerbangan komersial di seluruh wilayah terus membaik, penerbangan sewaan dan operasi transportasi darat Deplu AS akan dikurangi karena jumlah kursi yang tersedia pada opsi sewa kami jauh lebih besar daripada permintaan dari warga Amerika di wilayah tersebut," kata Johnson dalam sebuah pernyataan.
Pada Rabu (11/3), Deplu AS menghubungi hampir 9.000 warga negara Amerika di Uni Emirat Arab (UEA) untuk menawarkan penerbangan sewa dari Pemerintah AS.
"Terlepas dari upaya tersebut, penerbangan-penerbangan itu berangkat dari UEA dengan kursi yang masih tersedia karena kurangnya permintaan," ujarnya.
Baca juga: Bus evakuasi warga AS dari Qatar kecelakaan di Arab Saudi
Pada 28 Februari, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan mereka itu diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, mereka segera memperjelas bahwa serangan itu dilakukan karena mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama operasi militer AS dan Israel itu. Republik Islam Iran menyatakan 40 hari masa berkabung.
Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei itu sebagai tindak pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengutuk operasi AS-Israel itu dan menyerukan segera dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan.
Sumber: Sputnik-OANA
Baca juga: Kemlu pastikan WNI yang dipulangkan dari Iran tiba di RI hari ini
Baca juga: Australia desak anggota keluarga diplomat tinggalkan UEA di tengah konflik Timur Tengah





