Terburu-buru, Yufri Kondakh (40) memasuki halaman Markas Polsek Rote Barat Daya pada Selasa (10/3/2026) pagi. Nelayan itu melaporkan, ada sekelompok ikan besar sepertinya terjebak pukat di pesisir dangkal dekat Pantai Mbadokai. Lokasi tepatnya di Desa Deranitan, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Perairan dangkal itu berada sekitar 500 meter dari bibir pantai. Namun, Yufri belum dapat memastikan jenis hewan laut apa yang bernasib malang itu.
"Dari jauh terlihat melompat-lompat, terus sembur air ke udara," kata Yufri sambil meminta polisi segera bergerak ke sana.
Tidak lama, Yufri dan beberapa polisi mendatangi lokasi yang dimaksud. Namun, mereka tidak langsung ke tengah laut. Alasannya, semua perahu motor di sana dalam kondisi tertambat. Air laut yang sedang surut menyulitkan mereka mendorong perahu ke tengah laut.
Dalam kebingungan, dari kejauhan tampak speed boat milik salah satu perusahaan berlabuh agak ke tengah. Seorang polisi, Brigadir Kepala Edi Suryadi, lalu mendatangi pemiliknya. Dia meminta izin menggunakan perahu itu.
Setelah mendapat persetujuan, di tengah gelombang tinggi, beberapa polisi dan nelayan bergerak ke tengah laut. Setelah didekati, satwa naas itu ternyata paus. Bukan tersangkut pukat, koloni paus itu terjebak di perairan dangkal.
Kawanan paus itu berputar-putar dalam perairan dengan kedalaman kurang dari 3 meter. Beberapa di antaranya terluka akibat menabrak karang. Luka di tubuh mereka menganga.
Berbekal alat seadanya, warga dan polisi mencoba memukul-mukul permukaan air. Tujuannya, menghalau paus mendekati daratan. Jika terdampar, paus rentan dehidrasi dan berpotensi mati.
”Butuh kesabaran karena paus masih putar-putar di situ. Ada yang sudah bergerak menjauh ke tengah laut, tapi kemudian balik lagi," tutur Edi.
Hingga akhirnya, setelah tiga jam, paus berhasil digiring menuju laut lebih dalam. Saat dihitung, totalnya lebih dari 50 individu. Ini penyelamatan paus terbanyak yang pernah dilakukan di daerah itu. Warga dan polisi menyebut, kasus serupa sudah beberapa kali terjadi.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak saat menyelematkan koloni satwa, yang belakangan diketahui sebagai paus pilot (Globicephala macrorhynchus). Penyelamatan ini menandakan kepedulian terhadap keberlangsungan hidup biota dilindungi.
"Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menjaga kelestarian biota laut yang dilindungi sekaligus memastikan penanganan satwa laut dilakukan cepat dan tepat,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara dalam siaran pers pada Rabu (11/3/2026).
Koswara menuturkan, dari total 55 ekor paus pilot yang terdampar, 34 ekor berhasil digiring kembali ke laut. Sedangkan 21 ekor, yang terdiri atas 8 jantan dan 13 betina, ditemukan mati. Setelah diidentifikasi lebih lanjut, paus yang mati adalah 4 anak dan 17 dewasa.
Selanjutnya, tim akan mengidentifikasi, mengukur, serta menggelar nekropsi terhadap paus yang mati. Hal itu diperlukan guna pendataan serta kajian ilmiah dan analisis lebih lanjut, terutama terkait penyebab kematian.
Sejauh ini, ukuran paus terbesar yang mati mencapai 5,1 meter dengan jenis kelamin jantan. Sedangkan yang terkecil ukurannya 2,4 m.
Bupati Rote Ndao Paulus Henuk juga mengapresiasi kerja sama berbagai pihak dalam penanganan paus terdampar. Menurutnya, hal tersebut menjadi kunci penting dalam menangani peristiwa mamalia laut terdampar secara efektif.
Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang Imam Fauzi menambahkan, peristiwa paus terdampar secara massal merupakan fenomena yang dapat dipengaruhi berbagai faktor.
Ia menyebut, beberapa diantaranya seperti ikatan sosial kuat antar individu paus, gangguan sistem navigasi akibat kebisingan di laut dan kondisi pantai yang landai. Faktor kesehatan dan lingkungan juga rentan memengaruhinya.
"Penyebab pasti kejadian ini masih memerlukan kajian lebih lanjut melalui analisis ilmiah yang komprehensif," ucapnya.
Kisah tentang paus-paus yang ”tersesat” itu sudah kerap terdengar di berbagai daerah Indonesia. Kejadian itu bisa jadi isyarat kondisi alam dan penghuninya yang sedang tidak baik-baik saja. Manusia bisa menjadi penolongnya atau justru membuat keadaan itu menjadi lebih buruk.





