Screen Time Anak Capai 7 Jam Sehari, SKB 7 Menteri Atur AI di Pendidikan

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menegaskan, kebijakan Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri tentang pedoman pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial di dunia pendidikan bukan untuk membatasi teknologi.

Menurutnya, kebijakan tersebut justru bertujuan memastikan teknologi dimanfaatkan secara bijak oleh generasi muda.

Hal itu disampaikan Pratikno dalam acara penandatanganan SKB 7 Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial di Jalur Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3).

Pratikno menjelaskan perkembangan teknologi harus diiringi dengan pengelolaan risiko yang tepat agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja.

"Jadi SKB ini adalah bukan menghalangi tetapi mengatur untuk memitigasi risiko di satu sisi dan sekaligus teknologi digital dan kecerdasan artifisial ini memberdayakan. Jadi bukan memperdayakan, tapi memberdayakan anak-anak kita," kata Pratikno.

Pratikno menyoroti tingginya paparan teknologi digital di kalangan anak dan remaja. Ia menyebut waktu penggunaan layar atau screen time generasi muda bahkan telah mencapai lebih dari tujuh jam setiap hari.

"Artinya green time-nya makin kecil gitu. Dan memang ada banyak faktor tapi remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental tinggi dan terus meningkat. Dan salah satu yang diduga sebagai pemicu dan itu sudah proven secara akademik adalah pemanfaatan penggunaan teknologi digital yang tidak terkendali, tidak terkontrol, tidak termitigasi," ujarnya.

Menurut Pratikno, kebijakan SKB tujuh menteri merupakan respons pemerintah untuk memastikan generasi muda mampu menggunakan teknologi secara bijak sekaligus memiliki ketahanan mental, etika, dan moral yang kuat.

"Oleh karena itu sikap respons alarm keras inilah yang direspons SKB tujuh menteri untuk mewujudkan generasi yang bijak dan cerdas berdigital dan berartificial intelligence, menggunakan kecerdasan buatan untuk mendukung ekosistem yang pendidikan yang maju, yang kuat ya secara akademik, serta mental, etika, moral terbaik untuk anak-anak dan remaja kita," ucap dia.

Ia juga menegaskan penggunaan kecerdasan artifisial di lingkungan pendidikan dasar dan menengah akan diarahkan pada AI yang dirancang khusus untuk pembelajaran, bukan AI instan yang mudah diakses secara bebas.

"Jadi bagaimana kita tidak mendorong anak menggunakan AI instan yang mudah didapat itu, tapi menggunakan AI yang memang dirancang khusus untuk pembelajaran oleh sekolah. Ini digunakan supaya tidak semakin menggerogoti kognitif anak, cognitive debt, brain rot ya semakin lemah dan kemudian mendorong model-model pembelajaran yang inovatif dan project-based learning," tandas dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Video: Pramono Resmikan Transjabodetabek Blok M - Soetta
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Link Live Streaming Real Madrid vs Manchester City di Liga Champions, Kick Off 03.00 WIB
• 19 jam lalumediaindonesia.com
thumb
El Nino Mengintai, Balai Dalkarhut Giatkan Pencegahan Karhutla
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dua Eks Pegawai Kementan Ditahan Polda Metro Jaya dalam Kasus Dugaan Korupsi Rp5,94 Miliar
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Resmi Cerai dari Keith Urban, Nicole Kidman Utamakan Kebahagiaan Anak
• 10 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.